Jumat, 03 April 2020

Rifan Financindo Berjangka - Risk Off Dikesampingkan, USDJPY Terus Naik Menuju Ke Level 107,50


RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Pasangan mata uang USDJPY bullish sepanjang sesi Asia di hari ini. Pasangan tampak tidak mengindahkan adanya nada penghindaran risiko yang terjadi di pasar. Faktor utama kenaikan mungkin datang dari pemulihan Dolar AS dari level terendah terbarunya. Saat ini USDJPY telah bergerak positif dengan kenaikan 0,15 persen menuju ke dekat level harga 107,50.

Wabah virus Corona yang menyerang negara-negara di dunia terus memaksa para pembuat kebijakan untuk melangkah dengan cepat dan ketat. Apalagi saat ini jumlah kasus di Amerika Serikat juga terus mengalami kenaikan sangat pesat. Sampai saat ini jumlah kasus di AS mencapai di atas angka 200.000 kasus positif infeksi Corona.

Melihat kondisi ini bank sentral AS tidak akan tinggal diam dan akan mengambil langkah temporer untuk memberikan kelonggaran likuiditas bank-bank utama. Presiden Trump sendiri sudah memberikan peringatan bahwa AS akan menghadapi dua pekan yang sangat berat karena serangan virus Corona. Tapi walaupun demikian, nada risk off tampak dikesampingkan pedagang sehingga membawa USDJPY bullish beberapa waktu terakhir.

Sementara itu dari Jepang, jumlah kasus virus Corona juga terus mengalami kenaikan dan pemerintah memperpanjang penutupan sekolah sampai 6 Mei mendatang. Menteri Ekonomi Jepang yaitu Nishimura menyampaikan akan ada pertimbangan terkait langkah untuk mendukung produksi. Selain itu dia juga mengungkapkan akan mengadopsi ECMO sebagai salah satu bagian dari paket ekonomi yang akan diluncurkan.

Nada penghindaran risiko tampak dengan penurunan yang terjadi pada imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun ke bawa level 0,60%. Nikkei Jepang juga mencatat penurunan 1,8% saat sesi Asia berlangsung. Tapi USDJPY bullish melawan semua tren yang sedang berlaku saat ini, tapi secara luas pasangan masih dalam bias bearish jangka panjang - RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Sumber : inforexnews.com

Kamis, 02 April 2020

Rifan Financindo - Emas Akan Terus Meningkat Seiring Corona Yang Mengalahkan Ekonomi Global


RIFAN FINANCINDO BANDUNG  - Akibat pandemi global corona virus negara-negara di seluruh dunia meluncurkan langkah-langkah darurat seperti perang untuk melawan COVID-19. Perkiraan oleh OECD menunjukkan bahwa langkah-langkah untuk mengekang penyebaran virus akan menyebabkan output ekonomi menurun antara 20% dan 25%. 

Karena investor telah berteriak-teriak untuk aset safe haven di tengah gejolak pasar baru-baru ini, dolar AS telah menjadi raja pasar valuta asing global. Tapi emas sebenarnya mengungguli greenback. Menurut data Bloomberg, emas telah naik 5,3% sepanjang tahun ini dan saya masih naik.

Emas dalam pasokan pendek baru-baru ini karena biasanya dikirimkan pada penerbangan komersial yang telah dibatasi baru-baru ini, meskipun bank sentral Rusia mengambil beberapa tekanan.
Bank sentral negara itu baru saja mengumumkan akan menunda pembelian emas di pasar domestiknya mulai 1 April.

Bank sentral Rusia adalah salah satu pemegang emas terbesar di dunia. Pada bulan Desember, Menteri Keuangan Rusia Anton Siluanov mengatakan negaranya dapat mempertimbangkan untuk menginvestasikan sebagian dari Dana Kekayaan Nasionalnya dalam emas karena negara tersebut melihat investasi pada logam mulia sebagai lebih berkelanjutan dalam jangka panjang daripada dalam aset keuangan.

Virus mematikan itu mungkin salah satu hal terburuk yang bisa terjadi pada sistem kredit yang terlalu tinggi dalam siklus ekonomi tahap akhir. Memasuki pandemi, kami telah membangun ekuitas dan gelembung utang proporsi bersejarah.

Menurut IIF (Institute of International Finance), utang global akan tumbuh lebih cepat pada tahun 2020 dan diperkirakan melebihi $ 257 triliun pada akhir kuartal pertama tahun 2020, terutama didorong oleh utang sektor non-keuangan. Ini kira-kira dua kali lipat dari $ 130 triliun likuiditas global.

Pada puncak awal Februari di S&P 500, kapitalisasi pasar saham terhadap PDB mencapai 156%, tertinggi dalam sejarah, keuntungan pasar saham yang mengesankan selama pemerintahan Trump didorong oleh pemotongan pajak dan pemotongan pengeluaran untuk perawatan kesehatan masyarakat antara lain, dan P / E ekspansi ganda.

Investor bersedia membayar lebih untuk ekuitas publik karena narasinya adalah pemotongan suku bunga Fed selalu bullish untuk saham, meskipun bank sentral aktivis, pertumbuhan global sudah melemah dan prospek pendapatan AS memburuk bahkan sebelum COVID-19. 

Pembeli marginal terbesar dari ekuitas AS adalah korporasi Amerika dan CEO mereka yang menerbitkan obligasi dan meningkatkan tingkat utang hanya untuk membeli saham mereka sendiri dalam pembelian kembali saham perusahaan, mendorong S&P ke P / E 21x.

Sekarang dalam koreksi pasar beruang tercepat dalam sejarah pasar ekuitas AS, pasar saham diperdagangkan pada P / E blended forward 15.1x, sementara aktivitas pembelian kembali saham perusahaan menghasilkan kata-kata Presiden Trump sendiri dalam “pasar saham terbesar dalam sejarah, sejauh ini” itu membuat pasar dan ekonomi semakin berisiko terhadap guncangan eksternal seperti pandemi.

Investor emas dan investor pada umumnya semakin bertanya apakah perlu virus mematikan untuk membuat investor sadar akan kemungkinan bahwa kaisar mungkin tidak memiliki pakaian.
Jika setelah kuncian semuanya kembali normal dan The Fed berefleksi, konsumen dan investor menjalankan bisnis, masyarakat, dan pasar aset mereka akan baik-baik saja karena itu hanya masalah penawaran dan permintaan.

Jika ada krisis sistem keuangan sistem perbankan sistemik karena coronavirus, emas akan sangat baik, karena di luar sistem cadangan fraksional mata uang fiat tradisional. Jika ada deflasi utang global, emas akan melakukannya dengan sangat baik.

Menurut Presiden Bank Dunia David Malpass, setidaknya beberapa ekonomi cenderung menemukan diri mereka dengan beban utang jauh lebih dari 150% dari PDB selama resesi global setelah COVID-19.

Mark Mobius, investor veteran pasar berkembang baru- baru ini menyatakan, “tren emas akan terus naik bahkan setelah volatilitas baru-baru ini karena penurunan suku bunga dan suplai uang melalui atap mendukung harga emas batangan.”
Investor harus mengingat pepatah pasar lama: “Dia yang memiliki uang tunai dalam resesi adalah raja”

Raja dan ratu dan bahkan kaisar selama berabad-abad sering dengan bijak memilih emas daripada (sangat) pemerintah berhutang uang kertas. Investor harus memperhatikan kalau-kalau kaisar yang terkena virus mematikan ini tidak memiliki pakaian - RIFAN FINANCINDO

Sumber : inforexnews.com

Rabu, 01 April 2020

PT Rifan Financindo Berjangka - Global Tercabik-Cabik, Rupiah Nyaris Tembus Rp16.400


PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Gonjang-ganjing dunia akibat wabah virus corona yang kian mengkhawatirkan lagi-lagi menjadi momen yang menguntungkan bagi nilai tukar dolar AS. Kembali menjelma sebagai mata uang safe haven, dolar AS berada di klasemen teratas dan mencabik-cabik mata uang global, termasuk dolar Australia, euro, poundsterling, dolar Kanada, dan dolar New Zealand.

Hampir semua mata uang Asia juga tertekan signifikan terhadap dolar AS, misalnya saja dolar Taiwan, baht, dolar Singapura, won, yen, dan dolar Hong Kong. Hanya yuan yang terpantau mampu unggul tipis terhadap dolar AS. Lantas bagaimana dengan rupiah?

Rupiah bergerak variatif dengan kecenderungan menguat. Namun, sejak pembukaan pasar spot pagi tadi, rupiah enggan beranjak alias stagnan pada level Rp16.310 per dolar, jangan senang dulu, mesin pencari Google menunjukkan bahwa rupiah kian kritis di hadapan dolar AS. Nyaris menyentuh level Rp16.400, pada hari ini rupiah dibanderol senilai Rp16.381 per dolar AS.

Beruntungnya, rupiah tak sampai hati menjadi mata uang terlemah di dunia karena masih unggul di hadapan euro (0,16%), poundsterling (0,28%), dan dolar Australia (0,33%), sementara di tingkat Asia, rupiah menjelma sebagai mata uang paling perkasa ketiga setelah ringgit (-0,19%) dan yuan (-0,04%). Itu artinya, rupiah unggul terhadap baht (0,52%), yen (0,22%), dolar Singapura (0,18%), dolar Taiwan (0,11%), won (0,07%), dan dolar Hong Kong (0,05%) - PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Sumber : investing.com


Selasa, 31 Maret 2020

PT Rifan Financindo - Rupiah Bergerak Menguat Terpengaruh Sentimen Positif Ekonomi China


PT RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Nilai tukar Rupiah terhadap dollar Amerika Serikat bergerak menguat di perdagangan hari ini, Rupiah dibuka di Rp 16.345 per USD, melemah tipis dibanding penutupan perdagangan sebelumnya di Rp 16.337 per USD.

Rupiah sempat melemah hingga menyentuh Rp 16.355 per USD, namun kemudian terus bergerak menguat. Saat ini, Rupiah menguat dan berada di level Rp 16.319 per USD, hari ini rupiah bisa mendapatkan sentimen positif dari data indeks aktivitas manufaktur dan nonmanufaktur China versi pemerintah untuk bulan Maret yang dirilis melebihi ekspektasi dan masuk zona ekspansi, 52 vs 44,9 dan 52,3 vs 42,1," kata Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston di Jakarta 

Hasil tersebut menunjukkan pemulihan ekonomi China telah berhasil mengatasi pandemi wabah COVID-19. Pulihnya ekonomi China bisa membantu perekonomian negara mitra yang membutuhkan material dan pasar Negeri Tirai Bambu itu.

Selain itu, penguatan indeks saham AS juga bisa memberikan sentimen positif ke rupiah hari ini. Indeks Dow Jones ditutup menguat 3,19 persen.

Kendati demikian, penambahan penyebaran wabah masih menjadi sentimen negatif karena masalah utama belum terselesaikan. Ariston memperkirakan rupiah pada hari ini akan bergerak di kisaran Rp16.200 per USD hingga Rp16.400 per USD - PT RIFAN FINANCINDO

Sumber : merdeka.com

Senin, 30 Maret 2020

PT RIFAN - Awal Pekan, Rupiah Melemah Seiring Kekhawatiran Pasar


PT RIFAN BANDUNG - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada perdagangan awal pekan ini. Pelemahan masih terkait dengan dampak ekonomi dari wabah virus corona.

Rupiah dibuka di angka 16.155 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di angka 16.170 per dolar AS. Namun pada pukul 10.41 WIB, rupiah bergerak melemah ke level 16.320 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 16.155 per dolar AS hingga 16.320 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 17,7 persen, sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) rupiah dipatok di angka 16.336 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan patokan sebelumnya yang ada di angka 16.230 per dolar AS.

Pasar aset berisiko termasuk rupiah, mungkin akan tertekan di hari Senin karena pasar kembali mengkhawatirkan penyebaran wabah corona yang sudah memberikan dampak negatif ke perekonomian," kata Kepala Riset Monex Investindo Future

Seperti yang disampaikan oleh IMF, wabah COVID-19 sudah menyebabkan krisis ekonomi dan keuangan global, aksi lockdown karena wabah tersebut menyebabkan aktivitas ekonomi berkurang dan menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi di beberapa negara

Data-data ekonomi yang dirilis pekan lalu, negara yang terkena wabah seperti AS, Eropa dan Inggris, menunjukkan pelemahan yang cukup dalam, Contohnya data tenaga kerja AS yang menunjukkan jumlah orang yang menganggur bertambah 10 kali lipat lebih. Data aktivitas manufaktur dan sektor jasa juga mengalami penurunan yang signifikan.

Sentimen penahan pelemahan mungkin datang dari ditandatanganinya UU stimulus jumbo AS yang mengeluarkan dana hingga 2 triliun dolar AS untuk meredam dampak negatif wabah di perekonomian AS," ujar Ariston, Ariston memperkirakan rupiah pada hari ini akan bergerak di kisaran Rp 16.100 per dolar AS hingga Rp 16.300 per dolar AS - PT RIFAN

Sumber : liputan6.com

Jumat, 27 Maret 2020

Rifan Financindo Berjangka - Wali Kota Tegal Umumkan Karantina Wilayah, Perbatasan Ditutup Beton!


RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Perkembangan terbaru seputar wabah virus covid-19 di tanah air datang dari Tegal. Untuk pertama kalinya di Indonesia, Pemerintah Kota Tegal di Jawa Tengah mengumumkan karantina wilayah demi mencegah meluasnya wabah virus mematikan ini di kota tersebut.

Langkah berani yang bertentangan dengan kebijakan Pemerintah pusatl itu dilakukan setelah pasien dalam pengawasan (PDP) yang dirawat di ruang isolasi RSUD Kardinah Tegal dinyatakan positif covid-19.

Pernyataan karantina wilayah tersebut disampaikan pada Rabu silam oleh Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono, saat melakukan jumpa pers di Pendapa Balai Kota Tegal, terkait pasien positif covid-19 di Tegal.

Langkah ini bukan tak mungkin diikuti oleh kota-kota lain sehingga perlu antisipasi sebut Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah kepada Detik.com Jumat. "Keselamatan dan kesehatan masyarakat harus utama di atasnya, persoalan ekonomi harus kita pikirkan kemudian nanti setelah wabah corona selesai," sambungnya.

Meski demikian, ia menuturkan, dalam lockdown (karantina wilayah) sejumlah hal mesti dipersiapkan atau diantisipasi. Menurutnya, yang perlu dipersiapkan ialah ketersediaan logistik, khususnya pasokan pangan. Pangan ini tidak hanya beras, melainkan kebutuhan pokok lainnya. Tak hanya itu, hal lain yang mesti dipersiapkan ialah bantuan untuk masyarakat.

Karantina wilayah ini akan diterapkan pada 30 Maret 2020 dan berakhir 30 Juli 2020 dan untuk itu akses jalan protokol di dalam kota dan jalan penghubung antar kampung akan ditutup menggunakan beton.

Selama lockdown atau karantina wilayah ini, Dedy mengimbau agar warga Kota Tegal yang merantau di luar kota tidak pulang kampung, khususnya saat musim arus mudik. Jika terpaksa pulang kampung, warga wajib melapor ke gugus tugas covid-19, untuk menjalani pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu.

Dia berharap kebijakan yang diambil ini bisa memutus mata rantai penularan virus Corona. Jika sebelum empat bulan kondisi kembali normal, maka karantina wilayah ini akan ditinjau kembali - RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Sumber : investing.com
 

Kamis, 26 Maret 2020

Rifan Financindo - Stimulus AS Angkat Rupiah Ke Rp16.500 Per Dolar


RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Nilai tukar rupiah menguat ke level Rp16.500 per dolar AS, posisi tersebut menguat 0,45 persen dibandingkan perdagangan Senin, sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp16.486 per dolar AS atau menguat dibandingkan posisi senin, yakni Rp16.608 per dolar AS.

Sore ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia juga terpantau menguat terhadap dolar AS. Tercatat won Korea menguat 1,34 persen, peso Filipina 0,75 persen, dan dolar Singapura 0,68 persen, selanjutnya, lira Turki menguat 0,51 persen, yen Jepang 0,49 persen, ringgit Malaysia 0,36 persen.

Serta yuan China 0,17 persen diikuti dolar Taiwan sebesar 0,16 persen, rupee India 0,09 persen serta dolar Hong Kong yang menguat tipis 0,01 persen. Di sisi lain, pelemahan hanya terjadi pada baht Thailand sebesar 0,13 persen terhadap dolar AS.

Kemudian di negara maju, mayoritas nilai tukar bergerak menguat terhadap dolar AS. Dolar Australia dan dolar Kanada masing-masing menguat sebesar 2,02 persen dan 0,57 persen, diikuti poundsterling Inggris yang juga menguat 0,98 persen dan euro yang menguat sebesar 0,80 persen terhadap dolar AS.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai penguatan nilai rupiah disebabkan oleh langkah positif bank Sentral AS The Fed. Sebelumnya, The Fed mengumumkan pelonggaran kuantitatif tak terbatas dan program-program untuk mendukung pasar kredit.

Hal tersebut merupakan upaya The Fed untuk menghambat pelemahan ekonomi dari pembatasan darurat pada perdagangan terkait virus corona. Namun, Ibrahim menyebut kebijakan itu tidak memadamkan kekhawatiran pasar secara penuh

Langkah Fed kemungkinan akan mengurangi pukulan bagi banyak perusahaan dalam jangka panjang, tetapi investor tetap gelisah di tengah ketidakpastian tentang tingkat pandemi tersebut," ucap Ibrahim.

Menurut Ibrahim, kini pasar tengah menunggu anggota parlemen AS untuk memberikan paket stimulus fiskal, yang sejauh ini belum disetujui, lebih lanjut, Ibrahim menyebut rupiah  berpotensi bergerak melemah di kisaran Rp16.450 hingga Rp16.750 per dolar AS pada perdagangan esok hari - RIFAN FINANCINDO

Sumber : cnnindonesia.com