Rabu, 22 April 2020

PT Rifan Financindo Berjangka - Corona Dan Harga Komoditas Tekan Laju IHSG Hari Ini


PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan melemah pada perdagangan Rabu. Laju indeks saham utamanya dipengaruhi oleh kasus virus corona di dalam negeri dan harga komoditas yang anjlok, salah satunya minyak.

Tidak hanya itu, faktor ketidakpastian ekonomi global dan dalam negeri juga masih terus menekan pergerakan saham.

Analis Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya mengatakan indeks kembali tertekan oleh kondisi pasar regional dan global. Keadaan, tambahnya, diperparah oleh fluktuasi harga komoditas.

IHSG berpotensi melemah, mengingat kondisi pasar regional dan global, termasuk harga komoditas yang terlihat sedang dalam tekanan," kata William seperti dikutip dari risetnya, Rabu (22/4). Ia memprediksi IHSG bergerak dalam rentang support 4.302 dan resistance 4.718.

Analis Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi menuturkan rasio kematian korban virus corona Indonesia yang melebihi rasio kematian dunia juga masih akan menjadi fokus investor.
 
Sentimen pandemi covid-19 dalam negeri dengan rasio kematian 8,73 persen lebih besar dari rasio rata-rata kematian dunia sebesar 6,87 persen, ini masih akan menjadi fokus investor," ungkapnya.

Ia memproyeksi IHSG bergerak dalam rentang support 4.500 dan resistance 4.605.

Sementara itu, saham-saham utama Wall Street kompak ditutup melemah. Indeks Dow Jones jeblok 2,67 persen ke level 23.018, S&P 500 anjlok 3,07 persen ke level 2.736, dan Nasdaq Composite turun 2,7 persen menjadi 8.263 - PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Sumber : cnnindonesia.com

Senin, 20 April 2020

PT Rifan - IHSG Masih Di Bawah Tekanan Covid-19 Sepekan Ini


PT RIFAN BANDUNG - Dalam risetnya hari ini, Valbury Sekuritas Indonesia mengatakan pergerakan IHSG dalam pekan ini diperkirakan bergerak mixed dengan peluang melemah. Ketidakpastian dari Covid-19 tetap berpengaruh bagi pasar global dan juga dampaknya bagi saham yang diperdagangan Bursa Efek Indonesia pada pekan ini.

Dampak dari wabah Covid-19 diperkirakan berpengaruh besar terhadap ketenagakerjaan nasional, Menteri Keuangan Sri Mulyani, memprediksikan jumlah pengangguran dan angka kemiskinan di Indonesia akan mengalami kenaikan.

Angka kemiskinan Indonesia akan meningkat, dalam skenario berat naik 1,1 juta orang atau dalam skenario lebih berat akan menghadapi tambahan kemiskinan 3,78 juta orang. Demikian dengan angka pengangguran juga tentunya mengalami kenaikan. Angka pengangguran yang selama ini sudah menurun dalam lima tahun terakhir, juga kemungkinan akan mengalami kenaikan.

Dalam skenario buruk saja, angka pengangguran akan bertambah 2,9 juta. Dan ketika masuk dalam skenario sangat buruk diprediksi mencapai 5,2 juta jumlah pengangguran baru di Indonesia. 

Catatan dari Bank Indonesia, merebaknya pandemi Covid-19 telah mendorong ke luarnya investasi portfolio (capital outflows) dari Indonesia dalam jumlah besar dan memberi tekanan pelemahan nilai tukar rupiah. Aliran investasi portofolio total yang masuk sebesar Rp22,9 triliun dalam periode 1-19 Januari 2020 kemudian ke luar dalam jumlah yang besar sejak merebaknya pandemi Covid-19, yaitu Rp171,6 triliun secara neto dalam periode 20 Januari sd 1 April 2020.

Sebagian besar capital outflows dari SBN, yaitu sebesar Rp157,4 triliun, dan dari saham sebesar Rp13,3 triliun. Kebijakan pemerintah yang memutuskan melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta, dan sejumlah daerah lain, diakui atau tidak, telah berdampak kontraproduktif terhadap dinamika aktivitas ekonomi dan keuangan.

Sektor terdampak pertama akibat wabah Covid-19 ialah sektor pariwisata, seperti travel, hotel, restoran, penerbangan, dan UMKM terkait. Selain itu, perdagangan ekspor dan impor karena terputusnya mata rantai perdagangan internasional. Siiring dengan perkembangannya dalam tempo yang cepat berbagai aktivitas ekonomi dan keuangan dapat terdampak.

Di tengah Covid-19 yang menhantui AS, Presiden Donald Trump, mengancam akan membubarkan Kongres. Ancaman Trump ini disampaikan karena calon pejabat yang dinominasikan Trump selalu digagalkan politisi Demokrat di Senat. Trump menuding politisi Demokrat di Senat telah menjegal nominasi bagi sejumlah pejabat di pemerintahan yang penunjukkannya membutuhkan audisensi dan konfirmasi dari Senat - PT RIFAN

Sumber : beritasatu.com

Jumat, 17 April 2020

Rifan Financindo Berjangka - Ekonomi China -6,8% Tapi Rupiah Menguat 1,6%


RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat di kurs tengah Bank Indonesia (BI). Rupiah juga menguat di perdagangan pasar spot.

Kurs tengah BI atau kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate/Jisdor berada di Rp 15.503. Rupiah menguat signifikan 1,8% dibandingkan posisi hari sebelumnya, kabar serupa juga datang dari 'arena' pasar spot. Pada pukul 10:00 WIB, US$ 1 dihargai Rp 15.345 di mana rupiah menguat tajam 1,63%. 

Kala pembukaan pasar rupiah sudah menguat 0,77%. Selepas itu, mata uang Tanah Air semakin sangar dan membuat dolar AS lengser ke bawah Rp 15.400

Sejauh ini pasar belum terpengaruh kabar buruk dari China. Biro Statistik Nasional Negeri Tirai Bambu melaporkan, ekonomi pada kuartal I-2020 terkontraksi alias tumbuh negatif -6,8% year-on-year (YoY). Ini adalah kontraksi pertama sejak China mencatat pertumbuhan ekonomi secara YoY pada 1992.  

Namun, yang lalu biarlah berlalu. Kuartal I-2020 sudah dilalui dan hasilnya, ya begitulah. Sekarang mari menatap masa depan.

China adalah negara yang pertama merasakan pukulan pandemi virus corona (Coronavirus Desease-2019/Covid-19) karena virus itu memang bermula dari Kota Wuhan di Provinsi Hubei. Namun, China pulih dengan sangat cepat.
 
Beberapa indikator menunjukkan bahwa pada Maret pun sudah ada perbaikan dibandingkan Januari-Februari. Ini adalah bukti ekonomi China sudah pulih dari keterpurukan, meski secara bertahap.

Jadi mulai kuartal II-2020 sepertinya kita akan melihat stabilitas, mungkin akan ada pertumbuhan di kisaran 2%," papar Nathan Chow, Ekonom Senior DBS yang berbasis di Hong Kong - RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Sumber : cnbcindonesia.com

Kamis, 16 April 2020

Rifan Financindo - Mengenal Apa Itu Sovereign Bond


RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Sovereign bond adalah obligasi negara yang merupakan instrumen utang khusus yang dikeluarkan oleh pemerintah. Obligasi negara dapat didenominasikan dalam mata uang asing atau mata uang domestik pemerintah, kemampuan untuk menerbitkan obligasi dalam mata uang domestik cenderung menjadi kemewahan yang tidak dinikmati sebagian besar pemerintah.

Namun, semakin tidak stabilnya denominasi mata uang, semakin tinggi risiko yang dihadapi pemegang obligasi, untuk memenuhi pengeluaran, pemerintah memiliki 2 opsi: untuk menaikkan pajak atau menerbitkan obligasi. Menaikkan pajak merupakan yang memiliki proses hukum yang panjang. Jadi, obligasi negara lebih disukai karena mirip dengan mengambil pinjaman dari pasar.
Imbal hasil obligasi pemerintah adalah tingkat bunga yang dibayarkan pemerintah pada penerbitan obligasi.

Negara-negara dengan ekonomi yang bergejolak dan tingkat inflasi yang tinggi harus menerbitkan pengembalian bunga yang lebih tinggi pada obligasi mereka dibandingkan dengan yang lebih stabil.
Adapun hasil obligasi tergantung pada 3 faktor:

1. Kelayakan Kredit

Adalah kemampuan yang dirasakan negara-negara penerbit untuk membayar hutang mereka. Ini dapat diperoleh dari lembaga pemeringkat.

2. Risiko Negara

Faktor eksternal / internal seperti kerusuhan dan perang cenderung membahayakan kemampuan suatu negara untuk melunasi utangnya.

3. Nilai Tukar

Dalam kasus di mana obligasi diterbitkan dalam mata uang asing, fluktuasi nilai tukar dapat menyebabkan peningkatan tekanan pembayaran pada pemerintah yang menerbitkan.

Selain itu, bank-bank sentral juga mengendalikan persediaan uang dalam perekonomian dengan menggunakan obligasi ini. Ketika pemerintah berada dalam mode ekspansionis, bank sentral akan mengembalikan utang dengan imbalan uang tunai untuk meningkatkan modal untuk pengeluaran.

Dalam hal itu, bank berharap untuk memperlambat pertumbuhan dengan menjual lebih banyak sekuritas untuk mengambil likuiditas dari sistem - RIFAN FINANCINDO
 
Sumber : investing.com

Rabu, 15 April 2020

PT Rifan Financindo Berjangka - Harga Emas Naik Menembus 1700 Meski Pasar Libur

 
PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Harga emas naik lebih dari 1.5 persen di sesi perdagangan malam, meski sebagian pasar finansial masih libur Paskah. Level tingginya bahkan menembus rekor tertinggi dalam lebih dari tujuh tahun. Harga emas spot pun naik menyusul harga emas futures yang telah lebih dulu menembus $1,700. 
 
Harga emas spot naik 1.7 persen dan diperdagangkan di $1,717.36 per ons, level tertinggi sejak Desember 2012. Sementara itu, harga emas futures di Comex New York naik 0.5 persen ke level $1,761.40, tertinggi sejak bulan Februari 2013. Saat berita ini ditulis, grafik XAU/USD berikut ini menampilkan kenaikan harga emas hingga 1.36 persen ke $1,718.03, melanjutkan reli yang terbentuk sejak akhir pekan kemarin.

Harga emas menguat sehubungan dengan minat risiko yang kembali kendur, karena kepanikan para investor akan ketidakpastian ekonomi jangka panjang akibat penyebaran virus Corona. Pasar saham dan indeks-indeks hari ini dibuka melemah, berkebalikan dengan harga emas yang menjulang.

Inflasi dalam perekonomian cenderung mendukung bullish emas. Dalam hal ini, emas fisik (bullion) akan menjadi aset penyimpan nilai favorit dalam menghadapi kenaikan harga.
 
Selain minat risiko yang turun, stimulus moneter dari berbagai bank sentral (khususnya The Fed) turut menjadi penyokong kenaikan harga emas. The Fed minggu lalu telah mengumumkan tambahan paket stimulus senilai $2.3 triliun untuk membantu perekonomian yang terdampak. Bagaimana tidak, krisis akibat virus ini sudah menciptakan sedikitnya 16.8 juta pengangguran di AS - PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Sumber : seputarforex.com

Selasa, 14 April 2020

PT Rifan Financindo - Turun Tipis, Harga Emas Dibanderol USD1.686/Ounce


PT RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Harga emas sedikit menurun pada perdagangan Senin waktu setempat, meski masih berada pada level tertinggi. Hal ini karena meningkatnya kekhawatiran tentang prospek ekonomi global terhadap wabah corona virus, dan langkah-langkah stimulus Federal Reserve.

Emas spot turun 0,1% menjadi USD1.686.82 per ounce, setelah menyentuh level tertinggi sejak 9 Maret. Emas berjangka AS turun 0,7% menjadi USD1.739.90, komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS (CFTC) mengatakan spekulan meningkatkan posisi bullish mereka di emas COMEX dan memotongnya dalam kontrak perak dalam seminggu hingga 7 April.

Palladium naik 2,4% menjadi USD2.224,02 per ounce dan perak naik 0,5% menjadi USD15,40, sementara platinum turun 0,3% menjadi USD745,74.

The Fed pada Kamis lalu mengumumkan upaya untuk USD2,3 triliun untuk mendukung pemerintah daerah dan usaha kecil dan menengah, yang terbaru dalam rangkaian program yang diperluas yang dimaksudkan untuk menjaga ekonomi AS tetap utuh ketika negara itu memerangi pandemi virus corona. 

Bahkan 16,8 juta orang Amerika telah mengajukan tunjangan pengangguran dalam tiga minggu terakhir, dengan klaim baru mingguan mencapai 6 juta untuk kedua kalinya berturut-turut karena wabah tanpa henti menghentak ekonomi - PT RIFAN FINANCINDO

Sumber : okezone.com

Senin, 13 April 2020

PT Rifan - BI Diprediksi Tahan Suku Bunga


PT RIFAN BANDUNG - Bank Indonesia (BI) telah menurunkan kembali suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate 25 basis poin (bps) menjadi 4,5 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Maret 2020 lalu. Lantas, bagaimana prediksi para ekonom terkait hasil RDG bulan April 2020 yang dijadwalkan berlangsung dua hari ini tanggal 13-14 April.

Ekonom Bank Danamon Wisnu Wardhana memprediksi, BI akan menahan suku bunga acuan di level 4,5 dalam RDG ini. Meski begitu, ia masih melihat masih adanya ruang terbatas bagi bank sentral untuk menurunkan suku bunga acuan. "Hal ini untuk memastikan ketersediaan kebijakan moneter apabila kondisi skenario sangat berat akibat wabah Covid-19 terjadi," kata Wisnu.

Senada dengan Wisnu, Ekonom Bank BCA David Sumual juga melihat bahwa BI belum perlu kembali menurunkan suku bunga acuan pada bulan ini. Sementara itu, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira memandang bahwa BI masih perlu untuk menurunkan suku bunga acuan 25 bps ke level 42,5 persen pada RDG April 2020.

Menurutnya, dengan adanya pelonggaran moneter dari sisi suku bunga acuan ini di kondisi sekarang, mampu membantu daya beli masyarakat. Ini juga menimbang bahwa saat ini tidak semua lapisan masyarakat mampu mendapatkan fasilitas keringanan kredit perbankan/leasing.  "Setidaknya jika bunga yang rendah bisa menstimulus perekonomian khususnya sektor riil," kata Bhima.

Bhima dan Wisnu sepakat di tengah kondisi saat ini bank sentral masih belum perlu untuk menaikkan suku bunga acuan, meski ini berpotensi menarik hot money ke Indonesia. Menurut Wisnu, ini disebabkan oleh covered interest parity Indonesia yang masih lebih tinggi dibandingkan negara-negara tetangga.

Bhima bilang hal ini disebabkan oleh rupiah yang relatif menguat akibat intervensi BI dengan bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed dalam kerjasama repo. Untuk selanjutnya, Bhima melihat bahwa masih ada kebijakan-kebijakan lain yang bisa dilakukan oleh BI untuk menjaga perekonomian di tengah wabah Covid-19 ini. Antara lain dengan perbaikan insentif devisa hasil ekspor (DHE) serta meningkatkan LCS dengan negara mitra dagang - PT RIFAN

Sumber : bareska.com