Kamis, 15 Oktober 2020

Rifan Financindo - November Ada Vaksin Corona, Begini Nasib Emas


RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Harga emas Antam sedang naik turun belakangan ini, tetapi jika dilihat lebih ke belakangan sebenarnya logam mulia ini dalam tren menurun.

Emas Antam menyentuh rekor termahal sepanjang sejarah Rp 1.065.000/batang untuk satuan 1 gram pada 7 Agustus lalu, setelahnya perlahan bergerak menurun.

Pada hari ini, emas Antam satuan 1 gram dibanderol Rp 1.009.000/batang, naik 0,2% setelah mengalami penurunan dalam 3 hari beruntun

Berbicara mengenai emas Antam, salah satu penentu utama harganya tentu saja harga emas dunia. Saat emas Antam mencetak rekor termahal sepanjang sejarah, pemicunya adalah emas dunia yang mencapai rekor tertinggi sepanjang masa US$ 2072,49/troy ons.

salah satu faktor utama yang memicu kenaikan harga emas dunia adalah pandemi penyakit virus corona (Covid-19) yang membawa perekonomian global ke jurang resesi.

Kini harapan akan berakhirnya pandemi Covid-19 sedang membuncah setelah pemerintah berencana memulai vaksinasi di bulan depan.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) optimistis vaksinasi akan dimulai pada November 2020 dengan menggunakan tiga vaksin cari China.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto vaksin Sinovac, CanSino, dan G42/Sinopharm sudah selesai uji klinis fase 3 di beberapa negara dan telah mendapatkan izin emergency use (penggunaan darurat) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) China.

Khusus vaksin CanSino uji klnis akan selesai September 2020 dan sudah mendapat izin penggunaan darurat dari Pemerintah China dan Kanada. Vaksin ini juga sudah disuntik ke tentara China dan petugas kesehatan.

Lantas bagaimana nasib emas Antam jika vaksinasi benar dilakukan bulan November nanti?

Harga emas Antam sudah pasti akan terpengaruh, sebab selain emas dunia, harga emas Antam juga ditentukan kurs rupiah serta supply-demand.

Jika vaksinasi dilakukan bulan November nanti, maka ada peluang kurs rupiah akan menguat melawan dolar AS.

Dengan asumsi harga emas dunia tidak berubah, maka harga emas Antam kemungkinan akan turun. Sebab, emas dunia dibanderol dengan dolar AS, ketika Mata Uang Garuda menguat maka emas dunia akan menjadi lebih murah saat dikonversi ke rupiah.

Berarti harga emas Antam akan turun? Tidak juga, sebab tetap pergerakan harga emas dunia yang paling akan mempengaruhi harga emas Antam. Seandainya emas dunia terbang tinggi, harga emas Antam juga pasti ikut melesat meski kurs rupiah mampu menguat.

Di Indonesia boleh jadi memulai vaksinasi di bulan November nanti, tetapi tidak di negara-negara lainnya. Setiap pemerintah memiliki cara dan rencana sendiri untuk menanggulangi Covid-19.

Sayangnya, hingga saat ini pemerintah Amerika Serikat (AS), negara yang paling menentukan pergerakan harga emas dunia, belum menunjukkan tanda-tanda akan melakukan vaksinasi. Negeri Adi Kuasa masih "tersandera" politik, sebab akan ada Pemilihan Presiden (Pilpres) pada 3 November mendatang.

Alhasil, hingga saat ini para analis masih belum merubah proyeksi harga emas dunia. Dalam jangka panjang harga logam mulia ini diramal masih akan terus menguat, bahkan kembali mencetak rekor tertinggi baru. Artinya, emas Antam juga masih berpeluang kembali ke tren naik.

Bahan bakar emas dunia untuk terus menanjak masih belum habis. Pelaku pasar kini menanti stimulus fiskal di AS yang masih dalam proses tarik ulur. Jika stimulus tersebut cair, yang nilainya mencapai triliunan dolar AS, maka harga emas berpeluang melesat naik lagi.

Stimulus fiskal, bersama dengan stimulus moneter yang dikeluarkan bank sentral AS membuat jumlah uang yang beredar di perekonomian menjadi meningkat, sehingga berpotensi memicu kenaikan inflasi, serta melemahnya dolar AS.

Emas merupakan aset lindung nilai terhadap inflasi, akan menjadi buruan pelaku pasar jika ada ekspektasi peningkatan inflasi. Sementara itu, harga emas akan menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang selain dolar AS ketika the greenback melemah, sehingga permintaannya berpotensi meningkat.
Artinya, kenaikan inflasi dan pelemahan dolar AS akan menjadi pemicu kenaikan harga emas dunia.

Oleh karena itu, Jeff Clark, analis logam mulia senior di Goldsilver.com, menyatakan setiap penurunan emas merupakan peluang untuk beli kembali.
Meski volatilitas emas sedang tinggi, artinya naik turun tajam dalam waktu singkat dan sering sekali terjadi, Clark masih belum merubah pandangannya jika emas masih akan terus menguat

Ada banyak sekali alasan untuk berinvestasi di emas. Banyak sekali katalis untuk emas saat ini, bahkan lebih banyak dari rambut di kepala saya. Kondisi pasar saat ini sangat sempurna untuk emas," kata Clark sebagaimana dilansir Kitco, Jumat (9/10/2020) lalu.

Pemilihan presiden di AS yang memicu ketidakpastian, kerusuhan sosial, fundamental dolar AS yang buruk, kerusakan ekonomi akibat virus corona, stimulus moneter dan fiskal yang besar dan masih akan lebih besar lagi, serta suku bunga negatif, merupakan sebagian faktor yang membuat harga emas akan terus menanjak.

"Saya akan terus membeli emas, saya masih membeli perak, khususnya saat harga sedang turun sampai seseorang mengatakan ke saya semua masalah tersebut telah selesai," katanya.

Clark juga menyatakan tidak akan khawatir meski harga emas belakangan ini sedang menurun, sebab masih banyak ketidakpastian di dunia ini yang akan membawa emas kembali ke atas US$ 2.000/troy ons.

Saya tidak akan terkejut jika di akhir tahun nanti emas berada di bawah US$ 2.000/troy ons. Sekali lagi, dalam gambaran besar, setiap penurunan harga emas merupakan peluang beli bagi saya.

Hal senada juga diungkapkan Frank Holmes, CEO U.S. Global Investor, yang menyatakan volatilitas tinggi tersebut dikatakan menjadi kesempatan melakukan aksi buy on dip alias beli saat harga turun, Volatilitas emas menjadi peluang untuk buy on dip. Anda salah jika tak membeli emas," kata Holmes saat diwawancara oleh Kitco.

Holmes memprediksi harga emas akan mencapai US$ 4.000/troy ons dalam waktu 2 sampai 3 tahun ke depan - RIFAN FINANCINDO

Sumber : cncbindonesia.com

Rabu, 14 Oktober 2020

PT Rifan Financindo Berjangka - Dolar AS Beringas, Emas Dihajar & Langsung Lemas

 


PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG
- Harga emas dunia kembali terpelanting. Pada perdagangan kemarin, harga logam mulia tersebut drop nyaris 2% akibat ketidakjelasan seputar stimulus ekonomi lanjutan di AS serta proyeksi ekonomi global tahun ini yang lebih baik dari Dana Moneter Internasional (IMF).

Koreksi harga emas juga terjadi di saat yang sama saat Wall Street ditutup di zona merah. Sekali lagi, emas dan saham dalam jangka pendek bergerak searah. Selain aksi ambil untung lantaran sudah menguat, pasar juga mulai merespons mentoknya stimulus fiskal AS.

Nancy Pelosi, Ketua House of Representatives (salah satu dari dua kamar yang membentuk Kongres AS), menolak proposal stimulus dari pemerintah yang bernilai US$ 1,8 triliun. Sebenarnya angka tersebut sudah dinaikkan oleh Trump.

Namun tetap saja, jumlah tersebut lebih rendah ketimbang usulan Partai Demokrat yaitu US$ 2,2 triliun. Sementara itu Partai Republik mengusulkan paket stimulus kali ini nominalnya tak lebih dari US$ 1,5 triliun.

"(Nilai stimulus) sangat kurang untuk mengatasi kebutuhan penanganan pandemi dan resesi yang begitu dalam," tegas Pelosi, seperti diberitakan Reuters. Tarik ulur soal stimulus ini menjadi sentimen negatif bagi emas.

Maklum, sebagai aset lindung nilai dari depresiasi nilai tukar emas diuntungkan dengan masifnya stimulus fiskal dan moneter yang digelontorkan pemerintah serta bank sentralnya untuk meredam dampak pandemi Covid-19 terhadap perekonomian.

Stimulus jumbo tersebut membuat investor memasukkan emas ke dalam portofolio mereka. Minat investor terhadap aset tak berimbal hasil emas ini tercermin kenaikan harga emas sebesar 25% lebih sepanjang tahun ini. 

Namun ketidakjelasan seputar stimulus yang menjadi bensin bagi reli harga emas membuat dolar AS menguat 0,5%. Dolar AS dan emas bergerak berlawanan arah. Ketika dolar AS menguat, harga emas akan menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya sehingga bisa menurunkan minat.

Harga emas pun melorot 1,62% ke US$ 1.890,8/troy ons pada perdagangan kemarin (13/10/2020).

tahun ini juga jadi sentimen buruk bagi logam kuning itu.

Pada laporan World Economic Prospect versi Juni, IMF memperkirakan output perekonomian global terkontraksi 4,9%. Namun belakangan dalam rilis laporan terbarunya proyeksi tersebut direvisi naik.

"Ekonomi dunia perlahan mulai keluar dari jurang terdalam. Namun dengan virus corona yang masih menyebar, beberapa negara mulai mengerem pembukaan kembali aktivitas publik (reopening) dan sebagian bahkan mulai menerapkan karantina wilayah (lockdown) skala lokal. Perjalanan pemulihan ekonomi dunia ke level pra-pandemi masih panjang dan rentan berbalik arah

Meskipun IMF sedikit lebih optimistis dalam proyeksinya, hari ini Rabu (14/10/2020), harga emas menguat 0,13% ke US$ 1.893,3/troy ons. Kabar buruk seputar vaksin Johnson & Johnson seolah menunjukkan bahwa risiko ketidakpastian masih tinggi.

Sekali lagi, ini menunjukkan bahwa kehadiran vaksin sepertinya masih memakan waktu. Johnson & Johnson beberapa pekan lalu cukup menjanjikan, tetapi sekarang berbalik arah," ujar Oliver Pursche, Presiden Bronson Meadows Capital yang berbasis di Connecticut - PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Sumber : cnbcindonesia.com 

Selasa, 13 Oktober 2020

PT Rifan Financindo - Vaksinasi Anti Corona November, Siap Serok Cuan Dari Saham

PT RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Kabar Indonesia akan mulai melakukan vaksinasi pada awal november atau Desember tahun ini sempat menjadi perhatian pelaku pasar. Ada harapan, vaksinasi ini bisa menjadi solusi paling efektif dalam mencegah penularan virus Corona. 

Kalau benar jadi di bulan November, maka ini merupakan berita yang bagus, apabila aktivitas perekonomian pulih secara perlahan, maka semua sektor akan diuntungkan, namun, dia menuturkan, kabar baik tidak secara serta merta bisa menguntungkan suatu perusahaan tertentu karena vaksinasi adalah program pemerintah.

"Sifatnya sentimen. Belum tentu ada perusahaan yang diuntungkan secara khusus karena merupakan program pemerintah. [Perusahaan] tentu tidak bisa atau tidak berani ambil margin," katanya lagi.

Sementara itu, Equity Analyst PT Phillip Sekuritas, Anugerah Zamzami Nasr berpendapat, jika memang vaksinasi sudah mulai dilakukan pada November, dampaknya bisa mempercepat pemulihan ekonomi Indonesia. Dari semua instrumen investasi, dengan keyakinan investor, saham menjadi yang direkomendasikan karena masih punya ruang pertumbuhan.

"Impact-nya akan positif seiring dengan percepatan recovery ekonomi ke level potensialnya. Sehingga, dengan ekspektasi growth ini, saham harusnya bisa lebih prefer," ujarnya saat dihubungi CNBC Indonesia.

Seperti diketahui, Kementerian Kemaritiman dan Investasi mengungkapkan program vaksinasi Covid-19 akan dimulai pada awal November 2020. Indonesia akan mengandalkan vaksin buatan China untuk mengusir corona dari Bumi Indonesia.

Kepastian pelaksanaan program vaksinasi ini karena tiga produsen vaksin Covid-19 China sudah menyanggupi penyediaan jutaan dosis untuk Indonesia.

Cansino menyanggupi 100,000 vaksin (single dose) pada bulan November 2020, dan sekitar 15-20 juta untuk tahun 2021.

G42/Sinopharm menyanggupi 15 juta dosis vaksin (dual dose) tahun ini, yang 5 juta dosis akan mulai datang pada bulan November 2020.

Sinovac menyanggupi 3 juta dosis vaksin hingga akhir Desember 2020, dengan komitmen pengiriman 1,5 juta dosis vaksin (single dose vials) pada minggu pertama November dan 1,5 juta dosis vaksin (single dose vials) lagi pada minggu pertama Desember 2020, ditambah 15 juta dosis vaksin dalam bentuk bulk.

Untuk tahun 2021, Sinopharm mengusahakan 50 juta (dual dose), Cansino 20 juta (single dose), Sinovac 125 juta (dual dose). Single dose artinya satu orang hanya membutuhkan 1 dosis vaksinasi, sementara dual dose membutuhkan 2 kali vaksinasi untuk satu orang.

Ketiga perusahaan tersebut diketahui sudah masuk pada tahap akhir uji klinis tahap ke-3 dan dalam proses mendapatkan Emergency Use Authorization (EUA) di sejumlah negara - PT RIFAN FINANCINDO

Sumber : cnbcindonesia.com

Senin, 12 Oktober 2020

PT Rifan - Harga Emas Naik Atau Turun Tergantung Stimulus Fiskal AS

PT RIFAN BANDUNG - Segala sesuatu yang berlangsung pada minggu lalu adalah mengenai paket stimulus, apakah akan bisa diloloskan sebelum pemilihan presiden atau tidak. Kelihatannya pergolakan di pasar ini masih jauh dari selesai. Optimisme atas bantuan fiskal dari pemerintah yang lebih banyak lagi telah mendorong pasar saham dan emas naik tinggi pada akhir minggu lalu. Tweet dari Trump bahwa negosiasi bantuan Covid sedang bergerak, bersamaan dengan laporan bahwa Gedung Putih akan menaikkan stimulus coronavirus sampai $1,8 triliun menggerakkan semuanya.

Sebagai akibatnya indeks dolar AS terus melemah, saham naik dan harga emas meningkat 2% dengan emas berjangka kontrak bulan Agustus diperdagangkan pada $1,933.70 per ons.

Selain mengenai stimulus fiskal, untuk minggu ini sampai kepada waktu pemilihan presiden AS yang tinggal 20 hari lagi, fokus akan berada disekitar pemilihan presiden.

Selain masalah politik, kasus coronavirus masih terus meningkat demikian juga dengan ketegangan AS – Cina.

Kelihatannya pemerintah AS akan terus bergerak dengan paket stimulus. Pemikiran seperti ini merupakan faktor yang “bullish” bagi metal berharga. Masalahnya adalah sepertinya tidak akan berhasil sebelum pilpres berlangsung. Jika minggu ini kesepakatan tidak mencapai kemajuan, pasar emas bisa mengalami koreksi kembali.

Dalam situasi seperti ini, sampai kepada pilpres AS nanti, sebaiknya trading emas dengan melihat penurunan harga emas adalah kesempatan untuk membeli dengan harga yang rendah. Ekonomi global sedang menanjak meskipun ditengah tekanan coronavirus yang sedang naik lagi. Tidak ada alasan bagi emas untuk turun. Jika harga emas turun, itu adalah saatnya untuk masuk dengan membeli di harga yang lebih rendah.

Outlook emas tetap “bullish” dalam jangka panjang tidak peduli siapapun yang akan menjadi presiden AS. Baik Trump maupun Biden memiliki agenda yang akan memerlukan biaya antara $5 triliun selama dekade berikutnya, rencana dari kedua kubu akan memberikan banyak dukungan bagi kenaikan harga emas.

Dengan catatan karena Demokrat mau mengeluarkan lebih banyak uang, apabila Donald Trump yang memenangkan pilpres maka pelemahan dolar AS akan lebih tertahan dengan demikian kenaikan harga emas akan sedikit tertahan.

Ekspektasi mengenai inflasi mendukung kenaikan harga emas jangka panjang, khususnya dengan telah digelontorkannya $3,5 triliun dan akan lebih banyak lagi yang akan dikeluarkan.

Selain banyaknya uang yang digelontorkan, bank sentral AS juga akan terus mempertahankan tingkat bunga yang rendah sampai inflasi naik diatas 2% untuk jangka waktu yang lama. Hal ini adalah faktor yang “bullish” bagi emas dalam jangka panjang. Setelah pemilihan presiden AS selesai,  emas masih akan tetap dalam daftar diatas dan akan bisa menyentuh kembali $2,000.

Resiko turun bisa terjadi apabila pilpres AS berlanjut dengan pertempuran politik dan kerusuhan sosial yang besar di Amerika Serikat. Selain itu resiko turun bisa terjadi apabila paket stimulus tidak berhasil dikeluarkan sampai tanggal 3 November.

Setelah menembus “resistance” di $1,920 pada hari Jumat minggu lalu, level kritikal selanjutnya berada di $1,960 dan $1,980 sebelum akhirnya naik ke $2,000. Namun apabila berbalik turun, maka “support” pertama menanti di $1,900 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,880 dan kemudian $1,850 - PT RIFAN

Sumber : vibiznews.com

Jumat, 09 Oktober 2020

Rifan Financindo Berjangka - Hindari Kesalahan Investasi Emas Ini Kalau Gak Mau Cuan Melayang

 


RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Emas merupakan salah satu ladang investasi favorit banyak orang karena dianggap paling aman (safe haven). Alasannya, investasi emas memiliki keunggulan dari sisi nilai yang relatif lebih stabil, imbal hasil cukup menggiurkan, minim risiko, serta mudah diuangkan.

Emas juga dipercaya menjadi aset pelindung kekayaan dari hantaman krisis maupun resesi ekonomi. Tak heran, investasi emas begitu diminati. Dari kalangan emak-emak, sampai pemodal besar.

Agar untung maksimal, investasi emas harus totalitas. Artinya dalam jangka panjang. Sebab harga emas terus bergerak naik. Dan kalaupun turun tidak drastis.

Saat ini, harga emas sedang di atas angin. Di kisaran Rp 1 juta per gram. Meski begitu, bukan berarti asal-asalan dalam berinvestasi. Salah langkah, malah kamu yang rugi.

Berikut ini beberapa kesalahan investasi emas yang harus kamu hindari agar mendulang keuntungan, bukan kerugian:

1. Tidak mengikuti perkembangan harga emas

Sama seperti saham, investasi emas juga perlu terus dipantau. Terutama perkembangan harga emas dari waktu ke waktu. Contohnya harga emas dunia, pergerakan kurs rupiah dan dolar AS. Karena dua hal tersebut menjadi faktor yang mempengaruhi harga emas di Tanah Air.

Harga emas juga dipengaruhi permintaan investor serta kondisi ekonomi, sosial, politik di suatu negara. Perkembangan harga emas ini bisa kamu pantau melalui internet. Jadi, tak perlu susah payah datang langsung ke toko atau gerai emas untuk mengecek harganya.

Jika harga emas sedang tinggi, kamu boleh saja menjualnya untuk mencetak keuntungan. Namun tidak perlu semuanya. Sisanya bisa ditahan (tidak dijual) guna mengantisipasi kenaikan harga di lain waktu.

2. Tidak mendeteksi keaslian emas

Berhati-hatilah sewaktu membeli emas. Saat ini, ada saja pelaku kejahatan yang melakukan praktik pemalsuan emas dengan tujuan mengeruk keuntungan besar. Apalagi harga emas sedang melambung.

Modus kejahatan pemalsuan emas biasanya menyepuh perak dengan dilapisi emas. Emas palsu atau KW ini kemudian dibentuk perhiasan dan dijual kepada masyarakat.

Jadi, kamu harus tetap waspada. Jangan sampai tertipu membeli emas bodong. Kamu bisa mengecek keaslian emas dengan beberapa cara untuk menghindari kerugian

3. Tidak punya tempat penyimpanan emas

Kalau mengoleksi banyak emas di rumah, apakah itu emas batangan atau perhiasan, sangat rawan pencurian. Apalagi jika hanya disimpan di bawah bantal, bawah tempat tidur, atau lemari pakaian.

Maling bisa saja dengan mudah menyikat habis seluruh emasmu tanpa tersisa. Oleh karena itu, jika ingin investasi emas, pastikan kamu punya brankas emas atau tempat khusus menyimpan emas dengan sistem keamanan berlapis.

Mau lebih aman dan tidak ribet? Titip saja emas-emas kamu ke Pegadaian maupun perbankan. Biayanya cukup terjangkau. Di Pegadaian misalnya sekitar Rp20 ribu per 100 gram emas.

Dititip lebih aman ketimbang emas ditaruh di rumah. Dan tidak perlu khawatir kalau sering bepergian ke luar.

4. Tidak tahu tujuan investasi emas

Investasi apapun jangan asal, termasuk investasi emas. Jangan cuma ikut-ikutan saja, tanpa tahu arah dan tujuannya. Tetapkan tujuan investasi. Ngumpulin emas buat apa? Apakah untuk biaya menikah, membeli rumah, biaya pendidikan anak, atau lainnya.

Kemudian, tetapkan kebutuhan dananya dan jangka waktu investasi. Hitung dengan membuat simulasi berdasarkan harga emas per gramnya. Dengan begitu, kamu bisa tahu berapa uang yang harus dikeluarkan setiap bulan untuk investasi emas.

5. Salah memilih tempat investasi emas

Saking tingginya peminat, marak perusahaan domestik dan asing maupun atas nama individu menawarkan produk investasi emas ilegal. Tentu saja dengan iming-iming keuntungan besar untuk memikat calon korban

Sayangnya, keuntungan yang ditawarkan sudah tidak wajar. Kemudian tanpa berpikir panjang, banyak orang silau dengan keuntungan tersebut sehingga menjadi korban penipuan investasi emas bodong. Ngeri kan?

Uang ratusan ribu, jutaan rupiah, sampai ratusan juta rupiah yang kamu tanam untuk investasi emas abal-abal bakal raib. Jadi hati-hati, jangan mudah termakan rayuan pemilik investasi emas bodong.

Pelajari Caranya, Kelola Risikonya, dan Nikmati Keuntungannya

Kalau mau untung maksimal, kamu perlu mempelajari dan memahami keuntungan dan kerugian investasi emas. Mengambil keputusan tepat untuk jual, beli, atau tahan, serta mampu mengelola risikonya. Bila strategi-strategi tersebut sudah kamu kuasai, maka cuan akan mengalir deras ke kantongmu - RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Sumber : republika.co.id

Kamis, 08 Oktober 2020

Rifan Financindo - Ada Wacana Stimulus Rp 51.000 T dari The Fed


RIFAN FINANCINDO BANDUNG Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed) merilis notula rapat kebijakan moneter periode September 2020 pada Kamis (8/10/2020) dini hari tadi. Notula tersebut menunjukkan bagaimana para anggota komite pembuat kebijakan (Federal Open Market Committee/FOMC) berbeda pendapat mengenai strategi kebijakan moneter bahkan proyeksi perekonomian ke depannya.

Dalam rapat yang digelar pada pertengahan September lalu, Ketua The Fed Jerome Powell mengumumkan mempertahankan suku bunga acuan 0,25%, dan akan dipertahankan hingga akhir 2023. Selain itu, bank sentral paling powerful di dunia ini juga mempertahankan nilai pembelian aset (quantitive easing/QE) tetap sebesar US$ 120 miliar per bulan.

Tetapi untuk diketahui, The Fed sebelumnya mengatakan akan menggelontorkan QE seberapa pun diperlukan guna memacu perekonomian AS yang nyungsep akibat pandemi penyakit virus corona (Covid-19).

Beberapa indikator ekonomi AS sebenarnya menunjukkan pemulihan, tetapi menurut The Fed ketidakpastian masih tinggi, sehingga laju pemulihan pun masih perlu dukungan dari stimulus. 

The Fed memiliki mandat mencapai target inflasi 2% dan penciptaan lapangan kerja maksimal (maximum employment). Inflasi berdasarkan belanja personal (Personal Consumption Expenditure/PCE) yang menjadi acuan The Fed pada bulan Agustus sudah berada di level 1,4% year-on-year (YoY). Tetapi inflasi tersebut belum pernah mencapai level 2% sejak Desember 2018, artinya sebelum pandemi virus corona melanda, inflasi memang sudah menjadi masalah bagi perekonomian AS. 

The Fed ini sudah mengubah targetnya dengan menetapkan rata-rata inflasi 2%, sehingga akan membiarkan inflasi lebih tinggi dari 2% selama beberapa waktu sebelum menaikkan suku bunga. Hal itu dilakukan karena di tahun ini inflasi sempat merosot hingga 0,5% YoY, terendah sejak akhir 2015. 

Kemudian dari pasar tenaga kerja, tingkat pengangguran sudah terus menunjukkan penurunan, di bulan September tercatat sebesar 7,9%, turun jauh dari rekor 14,7% di bulan April lalu. Meski demikian, sekali lagi ketidakpastian masih tinggi, sehingga perekonomian AS masih perlu bantuan stimulus.  

Dalam notula yang dirilis dini hari tadi, beberapa anggota FOMC mulai membuka diskusi mengenai kemungkinan penambahan nilai QE per bulan, tetapi para anggota lainnya mengatakan diskusi tersebut lebih baik dilakukan pada "rapat kebijakan moneter berikutnya".

Artinya, The Fed masih punya "senjata" guna memacu perekonomian AS, yakni dengan penambahan nilai QE.

Sejak pandemi Covid-19 melanda, The Fed sudah menggelontorkan QE sekitar US$ 3 triliun, yang terlihat dari neraca yang dimilikinya. Neraca menunjukkan jumlah aset (obligasi pemerintah, swasta, dan surat berharga lainnya) yang dimiliki The Fed, semakin tinggi artinya The Fed menggelontorkan QE semakin besar.

Berdasarkan data dari Federal Reserve, per 30 September lalu, neraca The Fed mencapai US$ 7,056 triliun, naik tajam ketimbang posisi sebelum dihantam Covid-19 bulan Maret lalu di kisaran US$ 4,1 triliun.

Ekonom The Fed, Michael Kiley, yang juga merupakan Deputi Direktur Stabilitas Finansial, memberikan hasil risetnya yang menunjukkan The Fed bisa mempercepat laju pemulihan ekonomi AS dari resesi jika QE ditambah sebesar US$ 3,5 triliun atau Rp 51.450 triliun (kurs Rp 14.700/US$).

"Melihat terpukulnya perekonomian di awal tahun ini, program pembelian aset setara dengan 30% dari produk domestik bruto, atau sekitar US$ 6,5 triliun, dibutuhkan guna memulihkan perekonomian," tulis Kiley dalam risetnya yang juga tercantum di notula rapat kebijakan moneter The Fed.

Namun, masih belum jelas kapan penambahan QE tersebut akan dibahas, mengingat The Fed menuliskan "dalam rapat kebijakan moneter berikutnya", tetapi jika stimulus fiskal di AS yang terus mandek, ada peluang The Fed akan segera menggelontorkan stimulus tambahan.

Pembahasan stimulus fiskal memang maju mundur antara Pemerintah AS dan House of Representative (DPR) yang dikuasi oleh Partai Demokrat. Padahal, Powell sebelumnya sudah berulang kali menyatakan pentingnya stimulus fiskal guna memulihkan perekonomian AS - RIFAN FINANCINDO

Sumber : cnbcindonesia.com

Rabu, 07 Oktober 2020

PT Rifan Financindo Berjangka - Harga Emas Peluang Naik Masih Ada


PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Minggu lalu harga emas digerakkan terutama oleh turunnya dolar AS yang disebabkan oleh karena meningkatnya harapan akan disetujuinya stimulus fiskal AS oleh Kongres AS Harga emas yang sebelumnya sempat jatuh ke sekitar $1,850 an, mengalami kenaikan sampai sempat menembus ke atas $1,900 per ons. Sekretaris Keuangan AS Steven Mnuchin dengan jurubicara Kongres Nancy Pelosi kembali mengadakan perundingan untuk mencapai kesepakatan stimulus fiskal dan Steven Mnuchin mengatakan bahwa ada kemajuan di dalam perundingan mengenai paket stimulus yang baru.

Namun pada akhir minggu lalu, berita bahwa Presiden AS Donald Trump dengan istrinya Melania positip terkena Covid – 19, membuat semua berita lainnya, baik data makro ekonomi yang biasanya paling ditunggu Non-Farm Payrolls maupun isu mengenai paket stimulus, menjadi tidak begitu diperhatikan orang. Harga emas sempat naik sedikit dengan munculnya berita Trump ini.

Berita mengenai kesehatan Trump ini seharusnya membuat orang memburu emas yang safe-haven karena meningkatnya ketidakpastian, namun karena saat ini emas diperdagangkan searah dengan pergerakan harga saham, pergerakan harga emas pada minggu ini banyak tergantung kepada reaksi dari pasar saham.

Perkembangan kesehatan Trump akan sangat mempengaruhi pergerakan harga di pasar pada minggu ini. Berita terakhir mengatakan bahwa kondisi kesehatan Trump baik. Trump bisa berjalan sendiri tidak perlu bantuan dan tidak perlu oksigen. Dan Trump akan tetap bekerja dari Walter Reed.

Dengan Trump tidak lagi bermasalah di dalam kesehatannya, maka ketidak pastian menjadi berkurang. Pasar saham akan mengalami kenaikan yang juga akan menaikkan harga emas. Sentimen positip terhadap asset beresiko akan kembali mendominasi pasar yang akan menekan kembali dolar AS.

Permasalahan selanjutnya adalah mengenai paket stimulus. Apakah paket stimulus akan bisa disepakati antara Demokrat dengan Republikan di Kongres. Jika tidak, maka ekonomi akan mengalami perlambatan dan harga saham bisa berbalik tertekan. Dengan membaiknya kesehatan Trump lebih cepat daripada yang diperkirakan maka paket stimulus kemungkinan bisa diselesaikan dan pasar saham akan mengalami peningkatan. Jika hal ini terjadi maka harga emas berpotensi untuk naik menantang “resistance” pertama di $1,925 yang apabila berhasil ditembus akan lanjut ke $1,975 dan kemudian $2,000. Sedangkan apabila terjadi sebaliknya maka harga emas akan berhadapan dengan “support” terdekat di $1,875 yang apabila berhasil dilewati akan bertemu dengan level “support” yang tidak berhasil ditembus pada penurunan yang tajam dua minggu yang lalu di $1,850 dan terakhir “support” yang solid menunggu di $1,800.

Kenaikan harga emas pada bulan Oktober juga didukung oleh permintaan musiman dimana kebiasaan setiap tahunnya permintaan emas meningkat pada bulan Oktober dan menurun pada bulan November. Masih ada banyak uang beredar yang menganggur menjelang pemilihan presiden AS dan ada kesempatan bagi emas untuk merangkak naik kembali ke arah $1,980 dalam dua minggu kedepan. Dengan penurunan tajam dua minggu yang lalu dimana emas turun sekitar $200, harga $1,980 adalah level yang akan dicoba untuk dicapai kembali yang merupakan kenaikan 30% dari harga permulaan tahun.

Minggu ini perhatian akan tertuju kepada debat calon wakil presiden AS pada tanggal 7 Oktober antara Mike Pence dari kubu Trump dengan Kamala Harris dari kubu Biden. Kamala ditugaskan untuk menahan kemajuan dari kubu Trump namun apabila Pence menang mutlak atas kamala dan Republikan meningkat maka pasar akan menyambut dengan optimis yang mendukung assets yang beresiko dan membebani dolar AS.

Selain itu akan keluar risalah pertemuan FOMC the Fed pada hari Rabu dimana tidak ada perubahan tingkat suku bunga. Selain itu FOMC juga memformalkan pengumuman akan target inflasi rata-rata. Sementara untuk program pembelian obligasi, the Fed kelihatannya enggan untuk menambah kecepatan, hanya memaksa para politikus di kongres untuk bertindak. Risalah pada hari Rabu akan memberikan pencerahan mengenai potensi dari the Fed untuk bertindak dalam topik ini. Dua indikator lainnya yang menjadi perhatian adalah ISM PMI Jasa yang diperkirakan akan melambat dan klaim pengangguran minggua yang terus turun namun tetap ada pada angka yang tinggi - PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

 Sumber : vibznews.com