Selasa, 20 Oktober 2020

PT Rifan Financindo - Emas Berjangka Lebih Tinggi Selama Sesi AS

PT RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Emas berjangka lebih tinggi selama sesi AS pada Senin.

Pada Divisi Comex New York Mercantile Exchange, Futures emas untuk penyerahan Desember pada USD1.908,05 per troy ons pada waktu, meningkat 0,09%.

Instrumen sebelumnya yang pernah mengikuti sesi tinggi USD per troy ons. Emas kemungkinan akan mendapat support pada USD1.885,00 dan resistance pada USD1.922,75.

Indeks Dolar AS Berjangka yang merusak kinerja greenback versus keranjang enam mata uang utama lainnya, jatuh 0,30% dan terdaftar pada USD93,395.

Sementara itu di Comex, Perak untuk penyerahan Desember naik 0,50% dan sererahan pada USD24,527 per troy ons sedangkan Tembaga untuk penyerahan Desember naik 0,43% dan sererahan pada USD3,0808 per pon - PT RIFAN FINANCINDO

Sumber : investing.com

Senin, 19 Oktober 2020

PT Rifan - Harga Emas Jelang Pilpres AS Tetap Naik


PT RIFAN BANDUNG - Harga emas stabil di area $1,900 per ons. Ketidakpastian saat ini merupakan kata-kata di pasar menjelang pemilihan presiden AS yang tinggal dua minggu lagi. Pemicu utama pergerakan harga emas tetaplah negosiasi stimulus fiskal AS dan reaksi dolar AS terhadapnya. Emas dan saham saat ini sangat mengikuti perkembangan paket stimulus AS.

Saat ini, emas kemungkinan akan tetap bergerak di rentang harga yang terbatas antara $1,880 dengan $1,930 per ons. Emas saat ini sedang mengikuti pergerakan harga saham dan dolar AS. Untuk naik lebih tinggi, harga emas harus menembus $1,925 sementara untuk bergerak turun harus menembus $1,880. Sentimen sampai saat ini masih “bullish” bagi harga emas.

Paket stimulus kemungkinan tidak akan berhasil dicapai sebelum tanggal pemilihan presiden AS berlangsung tanggal 3 November. Perkembangan terakhir mengatakan bahwa Trump secara personal meminta Senat Republikan untuk mendukung setiap kesepakatan yang dicapai. Namun, pemimpin mayoritas Senat, Mitch McConnel menolaknya dan menyatakan bahwa dia tidak akan bisa menjual paket stimulus dalam jumlah yang lebih besar kepada anggota-anggotanya.

Pergerakan harga emas berkaitan langsung dengan stimulus karena metal berharga ini digerakkan oleh inflasi. Semakin banyak uang yang dicetak pemerintah, semakin banyak dolar AS terdepresiasi. Pada saat matauang AS terdevaluasi, hal ini akan mendorong naik harga emas karena dolar AS adalah matauang cadangan dunia.

Sebelum ataupun sesudah pemilihan presiden, stimulus pada akhirnya akan diloloskan oleh siapapun pemenangnya karena diperlukan untuk menaikkan lebih banyak belanja. Jadi siapapun pemenangnya, harga emas akan naik pada akhirnya.

Jumlah yang akan dikeluarkan oleh Biden kemungkinan akan lebih banyak, sementara Trump akan membelanjakan uangnya dengan lebih terarah. Namun terpilihnya kedua presiden ini akan baik bagi kenaikan harga emas.

Elemen lain yang akan mendorong naik harga emas adalah kekuatiran investor mengenai kenaikan kasus Covid – 19 diseluruh dunia karena bisa diterapkan lockdown yang baru yang membebani sentimen pasar.

Investor global sedang memperhatikan perkembangan terakhir virus corona yang mengalami kenaikan di Eropa dan sebagian AS. Di era belum ada vaksin, pemulihan ekonomi sebuah negara sangat tergantung kepada bagaimana negara tersebut bisa mengendalikan virus corona. Bila tidak bisa dikendalikan ekonomi negara tersebut bisa melambat atau bahkan turun. Hal ini menguntungkan metal berharga emas.

Dengan tinggal dua minggu lagi pemilihan presiden AS akan berlangsung, ada alasan pasar untuk kuatir, karena ada kemungkinan hasil pemilihan diperdebatkan dan bahkan ada kemungkinan bisa terjadi kerusuhan. Hasil pemilihan belum pasti dan resiko politik bisa memukul harga saham. Apabila terjadi aksi jual saham secara dramatis sebelum atau sesudah pemilihan, emas akan ikut terpukul karena investor akan menaikkan likuiditasnya, meskipun hanya temporer.

Harga emas sekarang berada di $1,899.41 yang berarti sudah berada pada “support” terdekatnya. Penurunan lebih lanjut akan berhadapan dengan “support” berikutnya di $1,885.00 dan kemudian $1,851.00. Sedangkan kenaikan selanjutnya akan berhadapan dengan “resistance” terdekat di $1,925.00 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,930.60 dan kemudian $1,939.40 - PT RIFAN

Sumber : vibznews.com

Jumat, 16 Oktober 2020

Rifan Financindo Berjangka - Harga Emas Bikin Jantungan, Sudah Drop Di Bawah US$ 1.900/Oz


RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Harga emas kembali terombang-ambing. Penguatan dolar AS akibat ketidakjelasan soal stimulus ekonomi lanjutan di Negeri paman Sam menjadi pemicu terpangkasnya harga emas. 

Harga emas terkoreksi 0,18%. Pukul 09.10 WIB logam mulia emas dunia di pasar spot dibanderol US$ 1.897,4/troy ons (oz), melorot dari posisi penutupan perdagangan sehari sebelumnya di US$ 1.900,9/troy ons.

Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan bahwa pihak dari Partai Demokrat yang diwakili oleh ketua DPR AS Nancy Pelosi disebut masih belum sepaham soal besaran nominal paket stimulus yang ditawarkan oleh Presiden Trump. 

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa sepertinya stimulus ekonomi kali ini tidak akan mencapai kesepakatan sebelum pemilu AS yang dihelat pada 3 November nanti berakhir. Akibat kabar ini beredar indeks dolar menguat. 

Indeks dolar mencerminkan posisi dolar AS terhadap mata uang lain. Ketika indeks dolar naik, maka dolar AS mengalami penguatan. Di saat yang sama membuat harga emas yang dibanderol dalam mata uang tersebut menjadi tertekan. 

Emas yang dianggap sebagai aset lindung nilai dari inflasi mendapat berkah karena diminati oleh banyak investor lantaran pemerintah dan bank sentral terus menggenjot penyaluran stimulus. 

Paket stimulus yang masif membuat pasokan uang beredar menjadi banyak dan masyarakat terutama investor mulai khawatir inflasi yang tinggi di masa mendatang akan terjadi. Padahal suku bunga saat ini sedang ditekan. Alhasil suku bunga riil akan terkerek ke teritori negatif dan menjadi kondisi yang mendukung emas untuk naik lagi.

Harga emas belakangan memang susah sekali tembus US$ 1.900/troy ons. Kalaupun tembus setelah itu balik arah lagi melemah. Meski susah tembus level resisten kuat tersebut, ada analis yang mengatakan bahwa dengan harga emas di US$ 1.900/troy ons pun masih kemurahan.

Dalam komentar yang diposting Rabu, Jesse Felder, penerbit buletin investasi Felder Report, menegaskan kembali sikap bullishnya pada logam mulia. Dia mengatakan meskipun harga emas hampir dua kali lipat dalam lima tahun terakhir, harganya tetap murah dibandingkan aset lain yaitu saham.

Harga emas relatif terhadap Dow Jones Industrial Average sepertinya menunjukkan bahwa itu tidak mahal sama sekali. Padahal, untuk menyamai puncak valuasi yang dicapai sekitar satu dekade lalu, emas perlu dua kali lipat lagi dari harga saat ini.

Jika mengacu pada analisis Felder maka harga emas harusnya bisa mencapai US$ 3.800/troy ons. Meskipun begitu pasar masih terus mencermati perkembangan baru soal stimulus dan pemilu AS. 

Banyak analis yang memperkirakan di akhir tahun harga emas bisa kembali ke US$ 2.000/troy ons. Ketika risiko inflasi yang lebih tinggi semakin terlihat, maka harga emas masih berpotensi untuk menguat lagi - RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Sumber :  cnbcindonesia.com

Kamis, 15 Oktober 2020

Rifan Financindo - November Ada Vaksin Corona, Begini Nasib Emas


RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Harga emas Antam sedang naik turun belakangan ini, tetapi jika dilihat lebih ke belakangan sebenarnya logam mulia ini dalam tren menurun.

Emas Antam menyentuh rekor termahal sepanjang sejarah Rp 1.065.000/batang untuk satuan 1 gram pada 7 Agustus lalu, setelahnya perlahan bergerak menurun.

Pada hari ini, emas Antam satuan 1 gram dibanderol Rp 1.009.000/batang, naik 0,2% setelah mengalami penurunan dalam 3 hari beruntun

Berbicara mengenai emas Antam, salah satu penentu utama harganya tentu saja harga emas dunia. Saat emas Antam mencetak rekor termahal sepanjang sejarah, pemicunya adalah emas dunia yang mencapai rekor tertinggi sepanjang masa US$ 2072,49/troy ons.

salah satu faktor utama yang memicu kenaikan harga emas dunia adalah pandemi penyakit virus corona (Covid-19) yang membawa perekonomian global ke jurang resesi.

Kini harapan akan berakhirnya pandemi Covid-19 sedang membuncah setelah pemerintah berencana memulai vaksinasi di bulan depan.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) optimistis vaksinasi akan dimulai pada November 2020 dengan menggunakan tiga vaksin cari China.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto vaksin Sinovac, CanSino, dan G42/Sinopharm sudah selesai uji klinis fase 3 di beberapa negara dan telah mendapatkan izin emergency use (penggunaan darurat) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) China.

Khusus vaksin CanSino uji klnis akan selesai September 2020 dan sudah mendapat izin penggunaan darurat dari Pemerintah China dan Kanada. Vaksin ini juga sudah disuntik ke tentara China dan petugas kesehatan.

Lantas bagaimana nasib emas Antam jika vaksinasi benar dilakukan bulan November nanti?

Harga emas Antam sudah pasti akan terpengaruh, sebab selain emas dunia, harga emas Antam juga ditentukan kurs rupiah serta supply-demand.

Jika vaksinasi dilakukan bulan November nanti, maka ada peluang kurs rupiah akan menguat melawan dolar AS.

Dengan asumsi harga emas dunia tidak berubah, maka harga emas Antam kemungkinan akan turun. Sebab, emas dunia dibanderol dengan dolar AS, ketika Mata Uang Garuda menguat maka emas dunia akan menjadi lebih murah saat dikonversi ke rupiah.

Berarti harga emas Antam akan turun? Tidak juga, sebab tetap pergerakan harga emas dunia yang paling akan mempengaruhi harga emas Antam. Seandainya emas dunia terbang tinggi, harga emas Antam juga pasti ikut melesat meski kurs rupiah mampu menguat.

Di Indonesia boleh jadi memulai vaksinasi di bulan November nanti, tetapi tidak di negara-negara lainnya. Setiap pemerintah memiliki cara dan rencana sendiri untuk menanggulangi Covid-19.

Sayangnya, hingga saat ini pemerintah Amerika Serikat (AS), negara yang paling menentukan pergerakan harga emas dunia, belum menunjukkan tanda-tanda akan melakukan vaksinasi. Negeri Adi Kuasa masih "tersandera" politik, sebab akan ada Pemilihan Presiden (Pilpres) pada 3 November mendatang.

Alhasil, hingga saat ini para analis masih belum merubah proyeksi harga emas dunia. Dalam jangka panjang harga logam mulia ini diramal masih akan terus menguat, bahkan kembali mencetak rekor tertinggi baru. Artinya, emas Antam juga masih berpeluang kembali ke tren naik.

Bahan bakar emas dunia untuk terus menanjak masih belum habis. Pelaku pasar kini menanti stimulus fiskal di AS yang masih dalam proses tarik ulur. Jika stimulus tersebut cair, yang nilainya mencapai triliunan dolar AS, maka harga emas berpeluang melesat naik lagi.

Stimulus fiskal, bersama dengan stimulus moneter yang dikeluarkan bank sentral AS membuat jumlah uang yang beredar di perekonomian menjadi meningkat, sehingga berpotensi memicu kenaikan inflasi, serta melemahnya dolar AS.

Emas merupakan aset lindung nilai terhadap inflasi, akan menjadi buruan pelaku pasar jika ada ekspektasi peningkatan inflasi. Sementara itu, harga emas akan menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang selain dolar AS ketika the greenback melemah, sehingga permintaannya berpotensi meningkat.
Artinya, kenaikan inflasi dan pelemahan dolar AS akan menjadi pemicu kenaikan harga emas dunia.

Oleh karena itu, Jeff Clark, analis logam mulia senior di Goldsilver.com, menyatakan setiap penurunan emas merupakan peluang untuk beli kembali.
Meski volatilitas emas sedang tinggi, artinya naik turun tajam dalam waktu singkat dan sering sekali terjadi, Clark masih belum merubah pandangannya jika emas masih akan terus menguat

Ada banyak sekali alasan untuk berinvestasi di emas. Banyak sekali katalis untuk emas saat ini, bahkan lebih banyak dari rambut di kepala saya. Kondisi pasar saat ini sangat sempurna untuk emas," kata Clark sebagaimana dilansir Kitco, Jumat (9/10/2020) lalu.

Pemilihan presiden di AS yang memicu ketidakpastian, kerusuhan sosial, fundamental dolar AS yang buruk, kerusakan ekonomi akibat virus corona, stimulus moneter dan fiskal yang besar dan masih akan lebih besar lagi, serta suku bunga negatif, merupakan sebagian faktor yang membuat harga emas akan terus menanjak.

"Saya akan terus membeli emas, saya masih membeli perak, khususnya saat harga sedang turun sampai seseorang mengatakan ke saya semua masalah tersebut telah selesai," katanya.

Clark juga menyatakan tidak akan khawatir meski harga emas belakangan ini sedang menurun, sebab masih banyak ketidakpastian di dunia ini yang akan membawa emas kembali ke atas US$ 2.000/troy ons.

Saya tidak akan terkejut jika di akhir tahun nanti emas berada di bawah US$ 2.000/troy ons. Sekali lagi, dalam gambaran besar, setiap penurunan harga emas merupakan peluang beli bagi saya.

Hal senada juga diungkapkan Frank Holmes, CEO U.S. Global Investor, yang menyatakan volatilitas tinggi tersebut dikatakan menjadi kesempatan melakukan aksi buy on dip alias beli saat harga turun, Volatilitas emas menjadi peluang untuk buy on dip. Anda salah jika tak membeli emas," kata Holmes saat diwawancara oleh Kitco.

Holmes memprediksi harga emas akan mencapai US$ 4.000/troy ons dalam waktu 2 sampai 3 tahun ke depan - RIFAN FINANCINDO

Sumber : cncbindonesia.com

Rabu, 14 Oktober 2020

PT Rifan Financindo Berjangka - Dolar AS Beringas, Emas Dihajar & Langsung Lemas

 


PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG
- Harga emas dunia kembali terpelanting. Pada perdagangan kemarin, harga logam mulia tersebut drop nyaris 2% akibat ketidakjelasan seputar stimulus ekonomi lanjutan di AS serta proyeksi ekonomi global tahun ini yang lebih baik dari Dana Moneter Internasional (IMF).

Koreksi harga emas juga terjadi di saat yang sama saat Wall Street ditutup di zona merah. Sekali lagi, emas dan saham dalam jangka pendek bergerak searah. Selain aksi ambil untung lantaran sudah menguat, pasar juga mulai merespons mentoknya stimulus fiskal AS.

Nancy Pelosi, Ketua House of Representatives (salah satu dari dua kamar yang membentuk Kongres AS), menolak proposal stimulus dari pemerintah yang bernilai US$ 1,8 triliun. Sebenarnya angka tersebut sudah dinaikkan oleh Trump.

Namun tetap saja, jumlah tersebut lebih rendah ketimbang usulan Partai Demokrat yaitu US$ 2,2 triliun. Sementara itu Partai Republik mengusulkan paket stimulus kali ini nominalnya tak lebih dari US$ 1,5 triliun.

"(Nilai stimulus) sangat kurang untuk mengatasi kebutuhan penanganan pandemi dan resesi yang begitu dalam," tegas Pelosi, seperti diberitakan Reuters. Tarik ulur soal stimulus ini menjadi sentimen negatif bagi emas.

Maklum, sebagai aset lindung nilai dari depresiasi nilai tukar emas diuntungkan dengan masifnya stimulus fiskal dan moneter yang digelontorkan pemerintah serta bank sentralnya untuk meredam dampak pandemi Covid-19 terhadap perekonomian.

Stimulus jumbo tersebut membuat investor memasukkan emas ke dalam portofolio mereka. Minat investor terhadap aset tak berimbal hasil emas ini tercermin kenaikan harga emas sebesar 25% lebih sepanjang tahun ini. 

Namun ketidakjelasan seputar stimulus yang menjadi bensin bagi reli harga emas membuat dolar AS menguat 0,5%. Dolar AS dan emas bergerak berlawanan arah. Ketika dolar AS menguat, harga emas akan menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya sehingga bisa menurunkan minat.

Harga emas pun melorot 1,62% ke US$ 1.890,8/troy ons pada perdagangan kemarin (13/10/2020).

tahun ini juga jadi sentimen buruk bagi logam kuning itu.

Pada laporan World Economic Prospect versi Juni, IMF memperkirakan output perekonomian global terkontraksi 4,9%. Namun belakangan dalam rilis laporan terbarunya proyeksi tersebut direvisi naik.

"Ekonomi dunia perlahan mulai keluar dari jurang terdalam. Namun dengan virus corona yang masih menyebar, beberapa negara mulai mengerem pembukaan kembali aktivitas publik (reopening) dan sebagian bahkan mulai menerapkan karantina wilayah (lockdown) skala lokal. Perjalanan pemulihan ekonomi dunia ke level pra-pandemi masih panjang dan rentan berbalik arah

Meskipun IMF sedikit lebih optimistis dalam proyeksinya, hari ini Rabu (14/10/2020), harga emas menguat 0,13% ke US$ 1.893,3/troy ons. Kabar buruk seputar vaksin Johnson & Johnson seolah menunjukkan bahwa risiko ketidakpastian masih tinggi.

Sekali lagi, ini menunjukkan bahwa kehadiran vaksin sepertinya masih memakan waktu. Johnson & Johnson beberapa pekan lalu cukup menjanjikan, tetapi sekarang berbalik arah," ujar Oliver Pursche, Presiden Bronson Meadows Capital yang berbasis di Connecticut - PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Sumber : cnbcindonesia.com 

Selasa, 13 Oktober 2020

PT Rifan Financindo - Vaksinasi Anti Corona November, Siap Serok Cuan Dari Saham

PT RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Kabar Indonesia akan mulai melakukan vaksinasi pada awal november atau Desember tahun ini sempat menjadi perhatian pelaku pasar. Ada harapan, vaksinasi ini bisa menjadi solusi paling efektif dalam mencegah penularan virus Corona. 

Kalau benar jadi di bulan November, maka ini merupakan berita yang bagus, apabila aktivitas perekonomian pulih secara perlahan, maka semua sektor akan diuntungkan, namun, dia menuturkan, kabar baik tidak secara serta merta bisa menguntungkan suatu perusahaan tertentu karena vaksinasi adalah program pemerintah.

"Sifatnya sentimen. Belum tentu ada perusahaan yang diuntungkan secara khusus karena merupakan program pemerintah. [Perusahaan] tentu tidak bisa atau tidak berani ambil margin," katanya lagi.

Sementara itu, Equity Analyst PT Phillip Sekuritas, Anugerah Zamzami Nasr berpendapat, jika memang vaksinasi sudah mulai dilakukan pada November, dampaknya bisa mempercepat pemulihan ekonomi Indonesia. Dari semua instrumen investasi, dengan keyakinan investor, saham menjadi yang direkomendasikan karena masih punya ruang pertumbuhan.

"Impact-nya akan positif seiring dengan percepatan recovery ekonomi ke level potensialnya. Sehingga, dengan ekspektasi growth ini, saham harusnya bisa lebih prefer," ujarnya saat dihubungi CNBC Indonesia.

Seperti diketahui, Kementerian Kemaritiman dan Investasi mengungkapkan program vaksinasi Covid-19 akan dimulai pada awal November 2020. Indonesia akan mengandalkan vaksin buatan China untuk mengusir corona dari Bumi Indonesia.

Kepastian pelaksanaan program vaksinasi ini karena tiga produsen vaksin Covid-19 China sudah menyanggupi penyediaan jutaan dosis untuk Indonesia.

Cansino menyanggupi 100,000 vaksin (single dose) pada bulan November 2020, dan sekitar 15-20 juta untuk tahun 2021.

G42/Sinopharm menyanggupi 15 juta dosis vaksin (dual dose) tahun ini, yang 5 juta dosis akan mulai datang pada bulan November 2020.

Sinovac menyanggupi 3 juta dosis vaksin hingga akhir Desember 2020, dengan komitmen pengiriman 1,5 juta dosis vaksin (single dose vials) pada minggu pertama November dan 1,5 juta dosis vaksin (single dose vials) lagi pada minggu pertama Desember 2020, ditambah 15 juta dosis vaksin dalam bentuk bulk.

Untuk tahun 2021, Sinopharm mengusahakan 50 juta (dual dose), Cansino 20 juta (single dose), Sinovac 125 juta (dual dose). Single dose artinya satu orang hanya membutuhkan 1 dosis vaksinasi, sementara dual dose membutuhkan 2 kali vaksinasi untuk satu orang.

Ketiga perusahaan tersebut diketahui sudah masuk pada tahap akhir uji klinis tahap ke-3 dan dalam proses mendapatkan Emergency Use Authorization (EUA) di sejumlah negara - PT RIFAN FINANCINDO

Sumber : cnbcindonesia.com

Senin, 12 Oktober 2020

PT Rifan - Harga Emas Naik Atau Turun Tergantung Stimulus Fiskal AS

PT RIFAN BANDUNG - Segala sesuatu yang berlangsung pada minggu lalu adalah mengenai paket stimulus, apakah akan bisa diloloskan sebelum pemilihan presiden atau tidak. Kelihatannya pergolakan di pasar ini masih jauh dari selesai. Optimisme atas bantuan fiskal dari pemerintah yang lebih banyak lagi telah mendorong pasar saham dan emas naik tinggi pada akhir minggu lalu. Tweet dari Trump bahwa negosiasi bantuan Covid sedang bergerak, bersamaan dengan laporan bahwa Gedung Putih akan menaikkan stimulus coronavirus sampai $1,8 triliun menggerakkan semuanya.

Sebagai akibatnya indeks dolar AS terus melemah, saham naik dan harga emas meningkat 2% dengan emas berjangka kontrak bulan Agustus diperdagangkan pada $1,933.70 per ons.

Selain mengenai stimulus fiskal, untuk minggu ini sampai kepada waktu pemilihan presiden AS yang tinggal 20 hari lagi, fokus akan berada disekitar pemilihan presiden.

Selain masalah politik, kasus coronavirus masih terus meningkat demikian juga dengan ketegangan AS – Cina.

Kelihatannya pemerintah AS akan terus bergerak dengan paket stimulus. Pemikiran seperti ini merupakan faktor yang “bullish” bagi metal berharga. Masalahnya adalah sepertinya tidak akan berhasil sebelum pilpres berlangsung. Jika minggu ini kesepakatan tidak mencapai kemajuan, pasar emas bisa mengalami koreksi kembali.

Dalam situasi seperti ini, sampai kepada pilpres AS nanti, sebaiknya trading emas dengan melihat penurunan harga emas adalah kesempatan untuk membeli dengan harga yang rendah. Ekonomi global sedang menanjak meskipun ditengah tekanan coronavirus yang sedang naik lagi. Tidak ada alasan bagi emas untuk turun. Jika harga emas turun, itu adalah saatnya untuk masuk dengan membeli di harga yang lebih rendah.

Outlook emas tetap “bullish” dalam jangka panjang tidak peduli siapapun yang akan menjadi presiden AS. Baik Trump maupun Biden memiliki agenda yang akan memerlukan biaya antara $5 triliun selama dekade berikutnya, rencana dari kedua kubu akan memberikan banyak dukungan bagi kenaikan harga emas.

Dengan catatan karena Demokrat mau mengeluarkan lebih banyak uang, apabila Donald Trump yang memenangkan pilpres maka pelemahan dolar AS akan lebih tertahan dengan demikian kenaikan harga emas akan sedikit tertahan.

Ekspektasi mengenai inflasi mendukung kenaikan harga emas jangka panjang, khususnya dengan telah digelontorkannya $3,5 triliun dan akan lebih banyak lagi yang akan dikeluarkan.

Selain banyaknya uang yang digelontorkan, bank sentral AS juga akan terus mempertahankan tingkat bunga yang rendah sampai inflasi naik diatas 2% untuk jangka waktu yang lama. Hal ini adalah faktor yang “bullish” bagi emas dalam jangka panjang. Setelah pemilihan presiden AS selesai,  emas masih akan tetap dalam daftar diatas dan akan bisa menyentuh kembali $2,000.

Resiko turun bisa terjadi apabila pilpres AS berlanjut dengan pertempuran politik dan kerusuhan sosial yang besar di Amerika Serikat. Selain itu resiko turun bisa terjadi apabila paket stimulus tidak berhasil dikeluarkan sampai tanggal 3 November.

Setelah menembus “resistance” di $1,920 pada hari Jumat minggu lalu, level kritikal selanjutnya berada di $1,960 dan $1,980 sebelum akhirnya naik ke $2,000. Namun apabila berbalik turun, maka “support” pertama menanti di $1,900 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,880 dan kemudian $1,850 - PT RIFAN

Sumber : vibiznews.com