PT RIFAN BANDUNG - Harga emas dunia merosot tajam pada perdagangan Jumat,
hingga kembali ke bawah US$ 1.900/troy ons. Dolar Amerika Serikat (AS)
yang bangkit dari level terendah dalam lebih dari 2 tahun terakhir
membuat emas tertekan.
Melansir data Refinitiv, emas merosot hingga 1,54% ke US$ 1.883/troy
ons di pasar spot. Posisi tersebut membaik, pada pukul 15:40 WIB berada
di level US$ 1.890/troy ons, melemah 1,18%.
Di awal pekan ini, atau di pembukaan perdagangan 2021, harga emas
dunia langsung meroket 2,4%, sehari setelahnya kembali naik 0,36% ke
kisaran US$ 1.950/troy ons, yang memunculkan harapan berlanjutnya tren
menanjak emas dunia, dan kembali ke atas US$ 2.000/troy ons.
Namun, pada perdagangan Rabu lalu, harga emas dunia ambrol 1,63% dan kemarin turun lagi 0,33%, dan berlanjut merosot hari ini.
Harga emas yang berbalik melemah akibat dolar AS yang bangkit dari
level terendah sejak Maret 2018 dalam 2 hari terakhir. Indeks yang
mengukur kekuatan dolar AS tersebut kembali naik 0,33% kemarin.
Sementara sore ini menguat 0,34% ke atas level 90.
Ekspektasi bangkitnya perekonomian AS di tahun ini, serta kenaikan yield obligasi (Treasury) AS menjadi pemicu bangkitnya indeks dolar AS.
Tekanan bagi emas akan semakin besar jika data tenaga kerja AS yang
akan dirilis malam ini menunjukkan pemulihan. Pasar tenaga kerja
merupakan salah satu indikator kesehatan ekonomi AS, dan akan
mempengaruhi kebijakan moneter dan fiskal yang akan diambil. Dua
kebijakan tersebut merupakan bahan bakar emas untuk menguat.
Selain itu, pernyataan para pejabat bank sentral AS (Federal
Reserve/The Fed) yang menunjukkan optimisme pemulihan ekonomi membuat
dolar AS "mengamuk".
"Saya terdorong untuk melihat peningkatan indikator ekspektasi
inflasi... Itu yang berusaha kami bantu" kata Thomas Barkin, Presiden
The Fed Richmond dalam wawancara degan Reuters Kamis kemarin.
Di tempat berbeda, Presiden The Fed St. Louis, James Bullard
mengatakan semua faktor yang akan memicu inflasi sudah ada, dari
kebijakan moneter dan fiskal. Bullard mengatakan saat ini kebijakan
fiskal sangat powerful, dan kemungkinan akan ada tambahan lagi saat pemerintahan Joseph 'Joe' Biden.
Melihat pernyataan pejabat The Fed tersebut, emas sebenarnya
berpeluang menguat lagi, sebab inflasi yang diprediksi naik dan
kemungkinan adanya stimulus fiskal tambahan. Emas secara tradisional
merupakan lindung nilai terhadap inflasi, ketika inflasi melesat naik,
maka permintaannya akan meningkat.
Namun di sisi lain, ekspektasi kenaikan inflasi tersebut memicu
penguatan dolar AS, sebab jika inflasi terus melesat maka The Fed
kemungkinan akan mempertimbangkan untuk mulai mengurangi nilai program
pembelian asetnya (quantitative easing/QE) yang saat ini senilai US$ 120 miliar per bulan.
Penguatan dolar AS memberikan tekanan bagi emas, begitu juga dengan
pengurangan nilai QE. Sehingga harga emas kemungkinan masih akan naik
turun dalam jangka pendek - PT RIFAN
Sumber : cnbcindonesia.com