RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Dolar AS bangkit dan
yield (imbal hasil( obligasi pemerintah
AS tenor panjang naik, harga emas kembali tertekan. Setelah terkoreksi
cukup dalam kemarin, harga logam kuning tersebut melanjutkan
koreksinya pada perdagangan hari ini, Jumat.
Harga emas di arena pasar spot jatuh 0,5% pada perdagangan kemarin.
Pagi ini harga emas lanjut koreksi dengan pelemahan sebesar 0,27% ke US$
1.731,72/troy ons. Emas gagal mempertahankan posisinya untuk kembali ke
level psikologis US$ 1.750/troy ons.
Yield nominal obligasi tenor panjang pemerintah AS kembali menunjukkan taringnya. Untuk tenor 10 tahun yield sudah mencapai 1,7% sementara untuk tenor 30 tahun yield hampir mendekati 2,5%.
Kenaikan yield obligasi turut menekan emas karena membuat biaya peluang memegang aset tak berimbal hasil seperti bullion ikut
naik. Tidak seperti saham dan obligasi yang memberikan dividen serta
kupon, return dari memegang emas hanya bergantung dari pergerakan
harganya saja.
Greenback yang sempat tertekan kini naik lagi. Dolar AS menguat meskipun bank sentral The Fed memutuskan untuk
Menariknya lagi meskipun The Fed cenderung optimis terhadap
pertumbuhan ekonomi dan inflasi tahun ini tetapi mereka tak terlihat
ingin buru-buru menaikkan suku bunga acuan. Bahkan sampai di tahun
2023.
The Fed memperkirakan ekonomi Paman Sam bakal tumbuh 6,5% tahun ini.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding dengan proyeksi sebelumnya di
angka 4,2%. Di tahun 2022, output AS diperkirakan masih bakal ekspansif
di angka 3,3% lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya 3,2%.
Namun untuk tahun 2023, produk domestik bruto (PDB) AS diramal naik
2,2% atau lebih rendah dari perkiraan terakhir di bulan Desember lalu di
angka 2,4%.
Bank sentral AS juga optimistis sektor tenaga kerja akan terus pulih
pasca krisis yang terjadi pada 2020 akibat pandemi Covid-19. Untuk tahun
2021, tingkat pengangguran diperkirakan turun menjadi 4,5%. Lebih
rendah dibandingkan dengan perkiraan Desember sebesar 5,0%.
Untuk tahun depan, tingkat pengangguran diharapkan menjadi 3,9% juga
lebih rendah dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya sebesar 4,2%. Pada
tahun 2023, tingkat pengangguran diperkirakan turun menjadi 3,5%.
Lagi-lagi lebih rendah dibandingkan dengan perkiraan Desember sebesar
3,7%.
Bank sentral AS juga memperkirakan tekanan inflasi akan meningkat.
Proyeksi The Fed menunjukkan bahwa Personal Consumption Expenditures
Index (PCE) diperkirakan naik 2,4% pada 2021. Angka tersebut naik dari
proyeksi Desember sebesar 1,8%.
Tekanan inflasi diperkirakan akan terus tumbuh pada tahun 2022 dengan
PCE naik 2,0%, naik dari perkiraan Desember sebesar 1,9%. Pada 2023,
Federal Reserve memperkirakan inflasi akan mencapai 2,1%.
Sementara itu untuk ekspektasi inflasi inti yang tidak menghitung komponen volatile food
dan harga energi, diperkirakan akan naik 2,2% tahun ini. Angka tersebut
lebih tinggi dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya sebesar 1,8%.
Tahun depan, inflasi inti diperkirakan naik 2,0%. Naik 0,1 poin
persentase dibandingkan dengan perkiraan Desember sebesar 1,9%. Pada
tahun 2023, inflasi diperkirakan akan meningkat menjadi 2,1%.
Outlook perekonomian yang lebih baik dan kenaikan inflasi tersebut turut mengerek naik yield obligasi. Jika yield terus naik dan untuk tenor 10 tahun tembus 2%, maka pasar keuangan diyakini bakal goyang.
Ekspektasi kenaikan inflasi seharusnya menguntungkan emas karena logam kuning ini termasuk salah satu aset untuk lindung nilai (hedging). Namun kenaikan yield yang signifikan dan dalam waktu singkat membuat pasar keuangan bergerak dengan volatilitas tinggi, termasuk emas - RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
Sumber : cnbcindonesia.com