Senin, 01 November 2021

PT Rifan - Harga Emas Berjangka Naik Tipis

PT RIFAN BANDUNG - Harga emas naik pada Kamis pagi di Asia. Namun, minat risiko yang kuat di pasar ekuitas menahan kenaikan emas batangan.

Harga emas berjangka naik tipis 0,18% di $1.802,00/oz pukul 11.40 WIB menurut data Investing.com, tetap di atas level $1,800. Dolar AS, yang biasanya bergerak terbalik terhadap emas, naik tipis 0,04% ke 93,832 pada hari Kamis sementara imbal hasil benchmark Treasury AS 10 tahun sempat jatuh ke level terendah hampir dua minggu.

“Kami berada dalam periode konsolidasi untuk emas, tetapi saya pikir pada akhirnya pengetatan kebijakan dan kekhawatiran inflasi akan positif untuk emas,” analis pasar senior OANDA Edward Moya mengatakan kepada Reuters.

“Pendapatan cukup mengesankan, dan itu mengejutkan banyak orang… Saham teknologi AS adalah tempat favorit bagi banyak investor, yang mengurangi permintaan akan tempat berlindung yang aman saat ini,” tambahnya.

Investor sekarang menunggu pertemuan Bank of Japan dan European Central Bank (ECB) pada hari ini. Kedua bank sentral diperkirakan akan mempertahankan kebijakan tidak berubah dan ECB kemungkinan akan mendorong kembali ekspektasi untuk kenaikan suku bunga pada tahun 2022, menurut Reuters. Pasar juga menunggu pertemuan kebijakan Federal Reserve AS pada 3 November untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut tentang garis waktu pengurangan aset.

Di logam mulia lainnya, perak terus turun 0,26% ke 24,128 pukul 11.48 WIB, sementara platinum naik tipis di 0,2% dan palladium naik 0,5% - PT RIFAN

Sumber : investing.com

Jumat, 29 Oktober 2021

Rifan Financindo Berjangka - Jelang Tiga Momen Besar, Emas Diprediksi 'Mengudara'

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Deepavali, Tappering Off, dan Window Dressing disebut-sebut sebagai tiga momen yang paling ditunggu para investor locogold di pengujung tahun ini. Itu karena, harga emas diprediksi bakal melonjak tajam pada tiga momen tersebut

Deepavali yang jatuh pada tanggal 4 November tahun 2021 diramalkan akan menggerek harga emas menuju ke level 1.800 dollar Amerika Serikat/toz. Hal ini mengingat permintaan emas yang tetap tinggi menjelang hari raya cahaya meski dalam situasi pandemi. 

"Kemudian isu tappering off yang sebelumnya digadang-gadang terjadi pada September lalu namun diundur dengan melihat progress maximum lapangan kerja dan data inflasi Amerika sampai pertengahan tahun depan sempat membuat emas ambrolsampai ke level 1.721 dollar AS/toz," kata Pemimpin Cabang Rifan Financindo Berjangka–DBS Tower Lisa Usfie, di Jakarta, Kamis (28/10).

Lisa mengatakan, tekanan turun kembali terjadi menjelang FOMC meeting 2-3 November 2021 dimulai pada tanggal 25 oktober dengan previous harga 1.813 dollar AS/toz yang tidak dibreak dan diprediksikan koreksi sampai ke level support kisaran 1.700 dollar AS/toz - 1.740 dollar ASZ/toz untuk melesat kembali rebound sampai akhir November 2021 ke level 1.830 dollar AS/toz - 1.860 dollar AS /toz.

Aroma kenaikkan harga emas telah dimulai sejak pekan kedua Oktober tahun ini. Dari level harga 1.700 dollar AS /toz, kini emas terus menyundul ke level 1.800 dollar AS/toz," kata dia.

Pelemahan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang terkoreksi terhadap enam mata uang lain hingga 0,3% lebih dalam beberapa minggu terakhir menjadi salah satu penyebab pula," kata dia.

Lisa memprediksi, hingga akhir tahun, harga emas diperkirakan akan menutup di atas level 1.810dollar AS/toz. "Yang jelas, di setiap menjelang akhir tahun emas berjangka hampir dipastikan memiliki peluang keuntungan yang tinggi. Tahapannya dimulai dari menjelang perayaan diwali, para investor bisa mengambil posisi buy karena harga emas biasanya akan menguat," kata dia.

Ia menjelaskan, kemudian setelah Deepavali, menuju window dressing, emas akan terdorong turun dengan menghijaunya harga saham di pasar keuangan, maka, masih kata lisa, para investor disarankan untuk tetap mengambil posisi jual dan menahan posisi hingga pergantian akhir tahun.

Emas akan kembali 'mengudara' seiring adanya January Effect di awal tahun dan perayaan Imlek," kata Lisa memprediksi - RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Sumber : republika.com

 

Kamis, 28 Oktober 2021

Rifan Financindo - Emas Terdongkrak 5,4 Dolar Karena Imbal Hasil AS Dan "Greenback" Jatuh

RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Harga emas menguat pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB) setelah bergerak fluktuatif sepanjang sesi, didukung oleh penurunan imbal hasil obligasi AS dan dolar yang lebih lemah, namun selera risiko yang kuat di pasar ekuitas menahan kenaikan emas lebih lanjut.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange, terdongkrak 5,4 dolar AS atau 0,3 persen, menjadi ditutup pada 1.798,80 dolar AS per ounce. Sehari sebelumnya, Selasa (26/10/2021), emas berjangka merosot 13,4 dolar AS atau 0,74 persen menjadi 1,793,40 dolar AS

Emas berjangka bertambah 10,5 dolar AS atau 0,58 persen menjadi 1.806,80 dolar AS pada Senin, setelah melonjak 14,4 dolar AS atau 0,81 persen menjadi 1.796,30 dolar AS pada Jumat, dan melemah 3 dolar AS atau 0,17 persen menjadi 1,781,90 dolar AS pada Kamis #


"Kami berada dalam periode konsolidasi untuk emas, tapi saya pikir pada akhirnya pengetatan kebijakan dan kekhawatiran inflasi akan positif untuk logam emas," kata Edward Moya, analis pasar senior di broker OANDA.

Laporan keuangan perusahaan-perusahaan cukup mengesankan, dan itu mengejutkan banyak orang... Saham teknologi AS adalah tempat favorit bagi banyak investor, yang mengurangi permintaan akan tempat berlindung yang aman saat ini.


Selera terhadap aset-aset berisiko tetap kuat setelah laporan keuangan kuartalan yang kuat dari pemilik Google, Alphabet Inc dan Microsoft Corp mengangkat Nasdaq.


Membantu emas, indeks dolar turun 0,2 persen terhadap para pesaingnya. Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun yang jadi acuan tergelincir di bawah 1,6 persen ke level terendah hampir dua minggu, mengurangi peluang kerugian memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.


Investor sekarang menunggu pertemuan Bank Sentral Eropa (ECB) pada Kamis dan pertemuan kebijakan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) AS pada 3 November untuk petunjuk lebih lanjut tentang jadwal waktu pengurangan pembelian aset.


ECB diperkirakan akan mempertahankan kebijakannya tidak berubah dan membiarkan keputusan tentang program pembelian obligasi darurat pandemi hingga Desember

Sementara emas sering dianggap sebagai lindung nilai inflasi, pengurangan stimulus ekonomi dan suku bunga yang lebih tinggi mendorong imbal hasil obligasi pemerintah naik, meningkatkan peluang kerugian memegang emas.


Meningkatnya permintaan emas fisik China juga mendukung emas, menurut MarketWatch, sebuah situs web yang menyediakan informasi keuangan, berita bisnis, analisis, dan data pasar saham.


Emas mendapat dukungan tambahan ketika Departemen Perdagangan AS melaporkan pada Rabu  bahwa pesanan barang tahan lama AS turun 0,4 persen menjadi 261,3 miliar dolar AS yang disesuaikan secara musiman pada September dibandingkan dengan Agustus.


Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Desember naik 10,3 sen atau 0,43 persen, menjadi ditutup pada 24,191 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari turun 13,6 dolar AS atau 1,32 persen, menjadi ditutup pada 1.019,3 dolar AS per ounce - RIFAN FINANCINDO

Sumber : antaramews.com

Rabu, 27 Oktober 2021

PT Rifan Financindo Berjangka - Emas Naik Karena Kekuatiran Akan Inflasi

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Harga emas naik pada awal perdagangan sesi AS hari Senin, didukung oleh meningkatnya kekuatiran mengenai inflasi yang problematik. Makin banyak ekonom dan pengamat pasar yang sudah veteran mengatakan bahwa naiknya inflasi global  lebih daripada sesuatu yang sementara.

Emas berjangka kontrak bulan Desember naik $11.50 ke $1,807.70 per troy ons. Sementara perak Comex bulan Desember naik $0.011 ke $24.465 per ons.

Pasar saham global bervariasi dalam perdagangan semalam. Indeks saham AS mengarah naik sedikit pada saat pembukaan perdagangan sesi New York dimulai. Minggu ini adalah minggu berikutnya bagi perusahaan – perusahaan AS untuk melaporkan penghasilan perusahaannya yang umumnya sangat positip dan membantu mendorong naik indeks saham AS lebi tinggi dari kerendahan di awal bulan Oktober.

Untuk sekarang ini kelihatannya laporan penghasilan yang luarbiasa bagusnya mengatasi kekuatiran mengenai stagflasi yang berarti naiknya harga-harga ditengah pertumbuhan ekonomi yang stagnan. Media mainstream baru-baru ini menyoroti bottleneck di dalam shipping, khususnya pantai Barat AS.

“Support” terdekat menunggu di $1,793 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,783 dan kemudian $1,767. “Resistance” terdekat menunggu di $1,815 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,835 dan kemudian $1,850 - PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Sumber : vibiznews.com

Selasa, 26 Oktober 2021

PT Rifan Financindo - Inflasi Global Bergejolak, Harga Emas Potensi Naik hingga USD 1.830 per Ounce

 



PT RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Ancaman inflasi yang meningkat jadi faktor paling berpengaruh untuk pasar emas. Sejumlah analis meramal, harga emas berpotensi bisa melesat hingga kisaran USD 1.830 per ounce.

Harga emas didorong ke level tertinggi selama enam pekan. Itu karena meningkatnya tekanan inflasi yang telah mendorong tingkat impas (breakeven rate) dalam obligasi 5 tahun ke level tertinggi dalam satu dekade.

Inflasi merupakan masalah global yang terus berkembang saat ini. Data Kanada pada pekan lalu menunjukkan, harga konsumen naik ke level tertinggi dalam 13 tahun pada bulan lalu.

Sementara di Inggris, tekanan inflasi tetap tinggi dan di atas target Bank of England selama dua bulan berturut-turut.

Namun, emas kehilangan pengaruh kuatnya saat harga jualnya jatuh USD 30 dalam hitungan menit pasca Ketua The Federal Reserve Jerome Powell yang beritikad mengurangi ancaman inflasi.

Mengutip dari laman kitco.com, Senin, Powell menegaskan pandangannya bahwa bank sentral AS berada di jalur yang tepat untuk mengurangi pembelian obligasi bulanan sebelum akhir 2021. Dia menambahkan, pembelian obligasi bulanan diharapkan akan berakhir pada pertengahan 2022.

Namun, tidak semua analis yakin bahwa Powell dan The Fed akan mampu mengatasi ekspektasi inflasi yang meningkat.

Daniel Pavilonis, broker komoditas senior di RJO Futures, mengatakan bahwa kenaikan imbal hasil dapat menunjukkan ekspektasi inflasi menjadi tidak terkendali. Dengan aktivitas ekonomi yang mulai melambat, The Fed akan memiliki perangkat yang terbatas.

Saya tidak berpikir The Federal Reserve memiliki kemampuan untuk membawa inflasi kembali terkendali. Kami melihat risiko stagflasi terus tumbuh dan itu akan baik untuk emas dan semua komoditas. Emas akan baik-baik saja, seperti investor melihatnya sebagai aset waktu," tuturnya - PT RIFAN FINANCINDO

Sumber : liputan6.com

Senin, 25 Oktober 2021

PT Rifan - Tinjauan Mingguan Kalender Emas Depan


PT RIFAN BANDUNG - Pembeli emas melihat kenaikan minggu kedua berturut-turut tetapi tidak sebelum naik rollercoaster pada hari Jumat yang membawa mereka ke euforia level $1.800, kemudian terjun dan akhirnya ditutup positif.

Kontrak teraktif emas berjangka AS, Desember, bertahan di $1.796,30 per ounce di Comex New York, naik $14,40, atau 0,8%. Di awal sesi, emas Desember melonjak hingga $1.815.50, hanya untuk kedua kalinya dalam seminggu yang telah melewati level $1.800.

Untuk minggu lalu, patokan kontrak berjangka emas berakhir naik 1,6% dan memperpanjang kenaikan minggu sebelumnya sebesar 0,6%.

Pergerakan emas pada hari Jumat dipicu oleh Ketua Fed Powell, yang selama penampilan virtual di acara Bank of International Settlements, mengkonfirmasi rencana bank sentral untuk mulai mengurangi stimulus bulanannya sebesar $120 miliar antara November dan Desember, sambil tetap memberikan batas waktu untuk kenaikan suku bunga.

Pasar telah gelisah selama berbulan-bulan ketika stimulus akan dimulai. Dengan diketahuinya, spekulasi telah beralih ke suku bunga.

Emas bukan satu-satunya pasar yang terombang-ambing di sesi Jumat: S&P 500 naik dari rekor tertinggi menjadi negatif pada tengah hari setempat.

Itu juga salah satu hari yang aneh ketika trifecta emas, dollar dan imbal hasil obligasi jatuh, menunjukkan bahwa investor pada dasarnya tidak tahu apa yang harus dilakukan.

"Pengambilan kunci dari Powell adalah bahwa The Fed berada di jalur untuk mulai mengurangi aset dan itu harus dilakukan pada pertengahan 2022, inflasi sementara mungkin berlangsung sedikit lebih lama dari yang diharapkan, dan ekspektasi kenaikan suku bunga harus ditulis dengan pensil," kata Ed Moya, analis di platform perdagangan online OANDA.

Emas masih berakhir di posisi positif dan naik lebih dari 1,5% pada minggu lalu yang masih merupakan kesaksian dari kekuatan yang melekat setelah berminggu-minggu terperangkap di pertengahan ke level $1.700 yang lebih rendah, kata Moya.

Wall Street tahu bahwa imbal hasil riil negatif akan tetap baik hingga tahun depan dan emas akan menegaskan kembali dirinya sebagai lindung nilai inflasi," tambahnya - PT RIFAN

Sumber : investing.com





Jumat, 22 Oktober 2021

Rifan Financindo Berjangka - Setelah Cetak Rekor, Harga Bitcoin Mulai Goyang

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Harga mayoritas mata uang kripto (cryptocurrency) berkapitalisasi pasar terbesar bergerak melemah pada perdagangan Jumat pagi waktu Indonesia, setelah sehari sebelumnya sempat menguat.

Berdasarkan data dari CoinMarketCap pukul 09:00 WIB, dari kedelapan kripto berkapitalisasi pasar terbesar (big cap) non-stablecoin, hanya koin digital solana yang masih mampu menguat pada pagi hari ini.

Solana meroket 10,61% ke level harga US$ 201,82/koin atau setara dengan Rp 2.845.662/koin (asumsi kurs hari ini Rp 14.100/US$).

Sementara sisanya diperdagangkan di zona pelemahan pada pagi hari ini. Bitcoin ambles 3,25% ke level harga US$ 62.628,15/koin atau Rp 883.056.915/koin, ethereum melemah 1,7% ke level US$ 4.103,63/koin (Rp 57.861.183/koin).

Berikutnya binance coin ambruk 4,81% ke US$ 476,5/koin (Rp 6.718.650/koin), cardano merosot 3,12% ke US$ 2,16/koin (Rp 30.456/koin), ripple terkoreksi 3,36% ke US$ 1,1/koin (Rp 15.510/koin), polkadot terpangkas 1,71% ke US$ 43,49/koin (Rp 613.209/koin), dan dogecoin terdepresiasi ke US$ 0,2445/koin (Rp 3.447/koin).

Bitcoin terpantau ambles pada pagi hari ini, setelah koin digital berkapitalisasi pasar lebih dari US$ 1 triliun tersebut mencapai harga tertinggi barunya sepanjang masa di kisaran level US$67.000.

Rekor tertinggi baru bitcoin tercipta pada Rabu (20/10/2021), setelah ProShares, perusahaan yang berfokus pada Bitcoin Strategy Exchange-Traded Fund (ETF) mulai diperdagangkan di bursa saham New York pada pekan ini.

Peluncuran ETF bitcoin tersebut menghasilkan sebesar US$ 570 juta aset dan mendapatkan sebesar US$ 1 miliar volume perdagangan selama hari pertama, salah satu peluncuran ETF paling sukses sepanjang masa.

Beberapa pengamat mengatakan bahwa penurunan harga bitcoin yang mulai terjadi pada Kamis (21/10/2021) kemarin tampak lebih seperti koreksi jangka pendek, bukan seperti koreksi pada Mei hingga Juli lalu

Awal pekan ini, analis mengatakan bahwa mereka masih melihat indikator bullish dalam grafik bitcoin. Mereka masih memprediksi bitcoin bakal menyentuh level US$ 80.000, US$ 86.000, bahkan US$ 100.000.

"Pemegang jangka panjang tampaknya belum menjual, jadi ini kemungkinan hanya koreksi jangka pendek," kata Lucas Outumuro, kepala penelitian IntoTheBlock, dikutip dari CoinDesk.

Sementara menurut Laurent Kssis, direktur CEC Capital, setelah empat hari reli yang solid, saatnya bitcoin untuk rehat sejenak sebelum bitcoin kembali melanjutkan penguatannya yang cenderung lebih kuat.

"Pasar tetap bullish secara keseluruhan," kata Kssis, dilansir dari CoinDesk.

Di lain sisi, menurut Nikolaos Panigirtzoglou, Ahli strategi JPMorgan dalam laporan risetnya mengatakan bahwa telah terjadi pergeseran dari ETF emas menjadi ETF bitcoin sejak September lalu, dan kini bitcoin sudah memiliki driver bagi investor untuk mendapatkan eksposur bitcoin.

JPMorgan pun melihat adanya pergeseran arus masuk investor di bitcoin dalam beberapa hari terakhir dan membuat tren bitcoin masih akan bullish hingga akhir tahun - RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Sumber : cnbcindonesia.com