RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Harga mayoritas mata uang kripto (cryptocurrency)
berkapitalisasi pasar terbesar bergerak melemah pada perdagangan Jumat pagi waktu Indonesia, setelah sehari sebelumnya sempat
menguat.
Berdasarkan data dari CoinMarketCap pukul 09:00 WIB, dari kedelapan kripto berkapitalisasi pasar terbesar (big cap) non-stablecoin, hanya koin digital solana yang masih mampu menguat pada pagi hari ini.
Solana meroket 10,61% ke level harga US$ 201,82/koin atau setara dengan Rp 2.845.662/koin (asumsi kurs hari ini Rp 14.100/US$).
Sementara sisanya diperdagangkan di zona pelemahan pada pagi hari
ini. Bitcoin ambles 3,25% ke level harga US$ 62.628,15/koin atau Rp
883.056.915/koin, ethereum melemah 1,7% ke level US$ 4.103,63/koin (Rp
57.861.183/koin).
Berikutnya binance coin ambruk 4,81% ke US$ 476,5/koin (Rp
6.718.650/koin), cardano merosot 3,12% ke US$ 2,16/koin (Rp
30.456/koin), ripple terkoreksi 3,36% ke US$ 1,1/koin (Rp 15.510/koin),
polkadot terpangkas 1,71% ke US$ 43,49/koin (Rp 613.209/koin), dan
dogecoin terdepresiasi ke US$ 0,2445/koin (Rp 3.447/koin).
Bitcoin terpantau ambles pada pagi hari ini, setelah koin
digital berkapitalisasi pasar lebih dari US$ 1 triliun tersebut mencapai
harga tertinggi barunya sepanjang masa di kisaran level US$67.000.
Rekor tertinggi baru bitcoin tercipta pada Rabu (20/10/2021),
setelah ProShares, perusahaan yang berfokus pada Bitcoin Strategy
Exchange-Traded Fund (ETF) mulai diperdagangkan di bursa saham New York
pada pekan ini.
Peluncuran ETF bitcoin tersebut menghasilkan sebesar US$ 570
juta aset dan mendapatkan sebesar US$ 1 miliar volume perdagangan selama
hari pertama, salah satu peluncuran ETF paling sukses sepanjang masa.
Beberapa pengamat mengatakan bahwa penurunan harga bitcoin yang
mulai terjadi pada Kamis (21/10/2021) kemarin tampak lebih seperti
koreksi jangka pendek, bukan seperti koreksi pada Mei hingga Juli lalu
Awal pekan ini, analis mengatakan bahwa mereka masih melihat indikator bullish dalam grafik bitcoin. Mereka masih memprediksi bitcoin bakal menyentuh level US$ 80.000, US$ 86.000, bahkan US$ 100.000.
"Pemegang jangka panjang tampaknya belum menjual, jadi ini
kemungkinan hanya koreksi jangka pendek," kata Lucas Outumuro, kepala
penelitian IntoTheBlock, dikutip dari CoinDesk.
Sementara menurut Laurent Kssis, direktur CEC Capital, setelah
empat hari reli yang solid, saatnya bitcoin untuk rehat sejenak sebelum
bitcoin kembali melanjutkan penguatannya yang cenderung lebih kuat.
"Pasar tetap bullish secara keseluruhan," kata Kssis, dilansir dari CoinDesk.
Di lain sisi, menurut Nikolaos Panigirtzoglou, Ahli strategi
JPMorgan dalam laporan risetnya mengatakan bahwa telah terjadi
pergeseran dari ETF emas menjadi ETF bitcoin sejak September lalu, dan
kini bitcoin sudah memiliki driver bagi investor untuk mendapatkan eksposur bitcoin.
JPMorgan pun melihat adanya pergeseran arus masuk investor di
bitcoin dalam beberapa hari terakhir dan membuat tren bitcoin masih akan
bullish hingga akhir tahun - RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
Sumber : cnbcindonesia.com