Senin, 17 Juli 2023

PT Rifan - Emas Spot Bullish Empat Hari Beruntun, Jatuhnya Dolar Jadi Pemicu

PT RIFAN BANDUNG - Harga emas diperdagangkan di level tertinggi baru satu bulan pada hari Jumat meskipun ada beberapa keraguan dalam momentum bullish. Emas spot telah naik selama empat hari beruntun hingga Kamis (13/07), mencapai sekitar $1.964 selama sesi Asia. Pergerakan ini bukan tanpa keraguan, tapi dengan Simple Moving Average (SMA) 100-day yang memberikan support di atasnya, ada tanda-tanda kenaikan yang diperpanjang dari level terendah tiga setengah bulan di bulan Juni sekitar $1.893.

Mata uang AS yang melemah tampaknya juga menopang emas. Dolar bergerak di dekat level terendah April saat pelaku pasar memperkirakan Federal Reserve akan segera mengakhiri siklus pengetatannya - sebuah langkah yang menambah dorongan bagi harga emas. Investor tampaknya yakin bahwa setelah kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin yang diperkirakan akan terjadi pada bulan Juli, suku bunga akan tetap stabil. Keyakinan ini diperkuat oleh data yang baru saja dirilis yang menunjukkan pertumbuhan harga konsumen lemah di bulan Juni.

Data menunjukkan bahwa inflasi mendingin; Indeks Harga Konsumen (IHK) utama tumbuh hanya 0,2% di bulan Juni sementara inflasi tahunan melambat dari 4% menjadi 3%, menandai kenaikan terkecil sejak Maret tahun lalu. Selain itu, kenaikan inti bulanan merupakan yang terendah sejak Agustus tahun sebelumnya.

Selain itu, ekspektasi kenaikan suku bunga hanya satu kali tahun ini juga menambah bahan bakar untuk emas: Inflasi di tingkat produsen mengalami kenaikan minimal - hanya sekitar 0,1% - bulan lalu, sementara angka bulan Mei direvisi turun yang mengindikasikan angka yang lebih rendah dari data yang dilaporkan sebelumnya.

Namun, komentar hawkish dari Gubernur Fed Christopher Waller telah mengerem lonjakan emas: Waller menyarankan dua kenaikan 25 bps lagi tahun ini dan berpendapat untuk menunda kenaikan pertama hingga rapat berikutnya bulan ini - PT RIFAN

Sumber : investing

Jumat, 14 Juli 2023

Rifan Financindo Berjangka - Emas Menuju Minggu Terbaik Sejak April karena Suku Bunga Fed Mendekati Akhir

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Harga emas menuju minggu terbaiknya sejak April ketika investor memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve mendekati puncak suku bunga, setelah data penting AS menunjukkan melambatnya inflasi.

Emas naik hampir 2% minggu ini, didukung oleh penurunan imbal hasil obligasi dan pelemahan dolar, dengan beberapa trader memperingatkan tentang kemungkinan disinfalasi setelah angka CPI AS yang lebih rendah dari yang diperkirakan pada hari Rabu. Kenaikan terbaru emas menandai perubahan arah setelah pada bulan Juni kehilangan momentum akibat laporan berturut-turut yang menunjukkan tekanan harga tetap tinggi.

Namun, inflasi inti AS tetap berada di atas target 2% bank sentral, dan trader swap hampir sepenuhnya memasukkan harga pengetatan lebih lanjut pada bulan Juli ketika Fed bertemu nanti bulan ini. Kenaikan suku bunga secara umum berdampak negatif bagi emas yang tidak memberikan hasil bunga.

Harga Emas spot sedikit berubah pada $1.959,38 per ons pada pukul 8:27 pagi waktu Singapura, mendekati level tertinggi dalam lima minggu. Indeks Spot Dolar Bloomberg stabil setelah turun 0,7% pada sesi sebelumnya. Perak diperdagangkan stabil dan naik hampir 8% minggu ini, sementara platinum dan paladium mengalami penurunan - RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Sumber: Bloomberg

Kamis, 13 Juli 2023

Rifan Financindo - Harga Emas Melonjak Karena Inflasi AS Melambat

RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Harga emas menguat tajam di akhir perdagangan, Rabu (12/7/2023), memperpanjang kenaikan untuk sesi kedua berturut-turut karena inflasi AS yang melambat. Ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve mendekati akhir dari siklus kebijakan moneter ketatnya.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman pada bulan Agustus di Divisi Comex New York Exchange melonjak 24,60 dolar AS atau 1,27 persen menjadi ditutup pada 1.961,70 dolar AS per ounce setelah menyentuh level tertinggi sesi di 1.965,10 dolar AS dan terendah di 1.937,50 dolar AS.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan, Rabu (12/7/2023), bahwa indeks harga konsumen (IHK) AS naik 0,2 persen pada bulan Juni dan naik 3,0 persen dari tahun lalu, level terendah sejak Maret 2021. Tidak termasuk makanan dan energi, IHK inti masing-masing meningkat 0,2 persen dan 4,8 persen.

Indeks dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS turun setelah pertumbuhan inflasi yang lebih lemah daripada yang diharapkan, yang juga memicu ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan segera mengakhiri siklus kenaikan suku bunganya, menurut para analis pasar.

Presiden Federal Reserve Bank of Richmond Thomas Barkin di Arnold, Maryland, Rabu, mengatakan bahwa pertumbuhan harga konsumen AS masih terlalu cepat meski melambat pada bulan Juni. Hal ini menegaskan kembali komitmen bank sentral untuk memulihkan inflasi ke tingkat sasaran.

"Inflasi terlalu tinggi," kata Barkin, "jika Anda mundur terlalu cepat, inflasi akan kembali kuat, yang kemudian mengharuskan The Fed melakukan lebih banyak lagi."

Dalam posting blog tentang stabilitas bank, Presiden Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari mengatakan bahwa regulator bank pemerintah AS harus menjalankan stress test "inflasi tinggi" baru untuk mengidentifikasi bank-bank berisiko dan dapat mengukur kekurangan modal mereka dengan lebih baik.

Kashkari menyebutkan prospek beberapa bank regional "sebagian besar" bergantung pada apa yang terjadi pada inflasi.

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman pada bulan September terdongkrak 1,029 dolar AS atau 4,42 persen menjadi ditutup pada 24,31 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman pada bulan Oktober bertambah 24,20 dolar AS atau 2,60 persen menjadi menetap pada 956,60 dolar AS per ounce - RIFAN FINANCINDO BANDUNG 

Sumber : republika.co.id

 

 

Rabu, 12 Juli 2023

PT Rifan Financindo Berjangka - Harga Emas Selasa Naik Tertinggi Hampir 3 Minggu Terpicu Pelemahan Dolar AS

PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Harga emas naik ke level tertinggi hampir tiga minggu pada hari Selasa karena dolar tergelincir ke level terendah dua bulan, sementara menantikan data inflasi AS yang dapat mempengaruhi jalur kenaikan suku bunga Federal Reserve.

Emas Spot naik 0,39% menjadi $1.932,78 per ons, Emas berjangka AS naik 0,37% menjadi $1.938,20.

Emas didukung oleh dolar yang lebih lemah karena Fed tampaknya menyiratkan bahwa mereka berada di akhir siklus pengetatan.

Indeks dolar menyentuh level terendah sejak 11 Mei, membuat emas lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.

Beberapa pejabat bank sentral AS pada hari Senin mengatakan Fed kemungkinan akan perlu menaikkan suku bunga lebih lanjut untuk menurunkan inflasi, tetapi akhir dari siklus pengetatan kebijakan moneter saat ini semakin dekat.

Di tempat lain, ukuran utama upah Inggris sesuai dengan tingkat pertumbuhan tertinggi yang pernah tercatat. Tetapi ada juga beberapa tanda bahwa panasnya inflasi di pasar tenaga kerja mereda, menawarkan prospek kelegaan bagi Bank of England.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan untuk perdagangan selanjutnya, harga emas akan mencermati pergerakan dolar AS yang jika lanjut melemah, akan menguatkan harga emas. Harga emas spot diperkirakan bergerak dalam kisaran Resistance $1.965-$1.986. Namun jika turun, akan bergerak dalam kisaran Support $1.905-$1.865 - PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Sumber : vibiznews.com

Selasa, 11 Juli 2023

PT Rifan Financindo - Emas Berhasil Mempertahankan Keuntungan Minggu Lalu

PT RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Harga emas pada jam perdagangan sesi AS hari Senin berhasil  mempertahankan keuntungan yang telah diperoleh pada hari Jumat minggu lalu dan diperdagangkan di sekitar $1,925 sementara dolar AS berbalik melemah.

Di tengah absennya rilis data makro ekonomi papan atas, pembukaan bursa Wall Steet yang positip membuat dolar AS kesulitan untuk mempertahankan kekuatannya sehingga menopang harga emas.

Dolar AS juga mengalami kesulitan menemukan permintaan setelah keluarnya survey dari New York Fed menunjukkan penurunan di dalam ekspektasi inflasi satu tahun.

Yield obligasi treasury AS turun tapi masih berada di atas 4%, membuat emas kesulitan untuk meneruskan kenaikannya.

Dolar AS mengalami tekanan jual yang kuat dan kehilangan semua keuntungan mingguannya pada hari Jumat minggu lalu.

Penurunan indeks dolar AS terutama terjadi pada hari perdagangan terakhir hari Jumat karena munculnya data NFP AS yang mengecewakan. Laporan pekerjaan AS menunjukkan bahwa Nonfarm Payrolls (NFP) meleset dari yang diperkirakan.

Ekonomi AS hanya menambah 209.000 pekerjaan baru pada bulan Juni, sementara pasar memperkirakan penambahan sebanyak 225.000 dan pada bulan Mei penambahan adalah sebanyak 306.000, jauh lebih tinggi daripada bulan Juni. Sebagai akibatnya indeks dolar AS pada hari Jumat turun 0.89%, hampir 1%, ke 101.953.

Lemahnya data pekerjaan AS ini membangkitkan keprihatinan bahwa pasar tenaga kerja AS sedang melonggar, memicu investor untuk percaya bahwa the Fed akan menjadi kurang agresif dalam outlook pengetatannya daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Pada hari Senin, harga emas berusaha untuk bertahan dalam keuntungan yang telah diperolehnya. Meskipun data inflasi Cina yang rendah telah menyalakan keprihatinan akan pertumbuhan ekonomi Cina.

Producer Price Index (PPI) Cina jatuh untuk bulan ke sembilan berturut-turut, turun 5.4% dari tahun sebelumnya setelah sebelumnya turun 4.6% pada bulan sebelumnya.

Support & Resistance

“Support” terdekat menunggu di $1,920 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,910 dan kemudian $1,900.

“Resistance” terdekat menunggu di $1,929 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,932 dan kemudian $1,949 - PT RIFAN FINANCINDO

Sumber : vibiznews.com

Senin, 10 Juli 2023

PT Rifan - Emas Pulih Setelah Keluarnya Angka NFP AS

PT RIFAN BANDUNG - Harga emas pada jam perdagangan sesi AS hari Jumat minggu lalu, berhasil membalikkan arah dan naik ke arah $1,930 di $1,925 per troy ons. Yield obligasi treasury AS benchmark 10 tahun turun ke arah 4% setelah keluarnya angka NFP AS bulan Juni yang mengecewakan dan dolar AS mulai melemah menghadapi para rivalnya sehingga membantu emas memperoleh keuntungan.

Memulai minggu perdagangan yang baru pada minggu lalu, di $1,919, harga emas mengakhiri minggu lalu dengan kenaikan ke $1,925, karena melemahnya dolar AS secara signifikan.

Penurunan indeks dolar AS terutama terjadi pada hari perdagangan terakhir hari Jumat karena munculnya data NFP AS yang mengecewakan. Laporan pekerjaan AS menunjukkan bahwa Nonfarm Payrolls (NFP) meleset dari yang diperkirakan.

Ekonomi AS hanya menambah 209.000 pekerjaan baru pada bulan Juni, sementara pasar memperkirakan penambahan sebanyak 225.000 dan pada bulan Mei penambahan adalah sebanyak 306.000, jauh lebih tinggi daripada bulan Juni. Sebagai akibatnya indeks dolar AS pada hari Jumat turun 0.89%, hampir 1%, ke 101.953.

Tingkat pengangguran AS turun ke 3.6% dari sebelumnya 3.7% sebagaimana dengan yang diperkirakan dan inflasi upah tahunan sebagaimana yang diukur oleh Average Hourly Earnings, tidak berubah di 4.4% namun lebih tinggi daripada yang diperkirakan di 4.2%.

Harga emas memperlihatkan pergerakan yang membosankan setelah volatilitas yang terjadi sebagai akibat keluarnya laporan employment swasta dari Automatic Data Processing (ADP) AS pada hari Kamis.

Laporan dari ADP pada hari Kamis minggu lalu menunjukkan bahwa employment sektor swasta AS menambah 497.000 pekerjaan pada bulan lalu, jauh di atas dari yang diperkirakan sebesar 220.000, suatu tanda bahwa pasar tenaga kerja tetap sangat tangguh meskipun sikap the Fed yang agresif dalam menaikkan tingkat bunga.

Data NFP yang keluar pada hari Jumat membuat balon optimisme yang berkembang pada hari Kamis karena munculnya data employment dari ADP yang jauh lebih baik daripada yang diperkirakan, mengempis. NFP muncul mengecewakan, lebih rendah daripada yang diperkirakan dengan lebih sedikitnya penambahan di dalam employment AS yang menunjukkan berkurangnya tekanan inflasi di AS dan pendekatan the Fed menjadi kurang hawkish sehingga membebani dolar AS dengan berat yang pada gilirannya mendorong naik harga emas.

Tingkat pengangguran AS turun ke 3.6% dari sebelumnya 3.7% sebagaimana dengan yang diperkirakan dan inflasi upah tahunan sebagaimana yang diukur oleh Average Hourly Earnings, tidak berubah di 4.4% namun lebih tinggi daripada yang diperkirakan di 4.2%.

Support & Resistance

“Support” terdekat menunggu di $1,923 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,913 dan kemudian $1,900.

“Resistance” terdekat menunggu di $1,927 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,932 dan kemudian $1,950 - PT RIFAN

Sumber : vibiznews.com

Jumat, 07 Juli 2023

Rifan Financindo Berjangka - Pasar Berspekulasi The Fed Makin Agresif, 11 Sektor Wall Street Merah

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Wall Street merosot pada akhir perdagangan Jumat pagi WIB, karena spekulasi The Fed harus mengambil pendekatan yang agresif untuk menjinakkan inflasi membuat imbal hasil obligasi pemerintah AS lebih tinggi dan membebani pasar ekuitas. Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 366,38 poin atau 1,07 persen, menjadi 33.922,26 poin. Indeks S&P 500 kehilangan 35,23 poin atau 0,79 persen, berakhir pada 4.411,59 poin.

Indeks Komposit Nasdaq tergelincir 112,61 poin atau 0,82 persen, ditutup pada 13.679,04 poin. Semua dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor energi dan konsumen memimpin penurunan masing-masing kehilangan 2,45 persen dan 1,65 persen. Sektor teknologi membukukan penurunan terlemah, menyusut 0,16 persen. Saham-saham AS turun pada Kamis (6/7/2023) setelah data pekerjaan yang lebih panas dari perkiraan menggarisbawahi kekuatan pasar tenaga kerja yang sedang berlangsung dan meningkatkan ketakutan investor akan kenaikan suku bunga di masa depan dari The Fed.


Pekerjaan sektor swasta meningkat 497.000 pada Juni, hampir dua kali lipat jumlah yang dibuat pada Mei dan jauh melampaui ekspektasi pasar 220.000, menandai kenaikan bulanan terbesar sejak Juli 2022, menurut data dari perusahaan pemrosesan penggajian ADP. Data perekrutan ADP yang kuat mengirim imbal hasil obligasi pemerintah AS naik melintasi kurva di sesi Kamis (6/7/2023), dengan imbal hasil obligasi pemerintah 2-tahun dan 10-tahun melonjak ke level tertinggi sejak Maret.


Pada saat investor bertaruh bahwa laporan tersebut akan mendorong Fed untuk lebih agresif, pernyataan dari Presiden Federal Reserve Dallas, Lorie Logan menambah lebih banyak pemicu kekhawatiran mereka. Dia mengatakan pada Kamis (6/7/2023) bahwa lebih banyak kenaikan suku bunga kemungkinan akan diperlukan untuk memperlambat inflasi yang panas. Pembuat kebijakan Federal Reserve mungkin takut dengan laporan pekerjaan besok setelah angka ADP hari ini sekali lagi melenyapkan perkiraan, yang datang lebih dari dua kali lipat perkiraan konsensus, kata Craig Erlam, analis pasar senior di OANDA, pemasok layanan perdagangan daring multi-aset.

Jika kenaikan suku bunga bulan ini belum dilakukan, mungkin sekarang. ADP sering kali bukan pendahulu yang bagus untuk angka NFP (Penggajian Non Pertanian), tetapi ini adalah laporan yang tidak bisa Anda abaikan begitu saja. Saya yakin semua orang akan merevisi ekspektasi mereka di belakangnya dan bertanya-tanya berapa lama lagi ketahanan pasar tenaga kerja ini dapat bertahan," menurut Erlam, dikutip dari Xinhua. Investor juga mencerna data pekerjaan lain yang dirilis pada Kamis (6/7/2023).

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa klaim pengangguran awal meningkat menjadi 248.000, naik 12.000 dari level revisi minggu sebelumnya di 236.000, yang menunjukkan peningkatan moderat. Sementara itu, jumlah lowongan pekerjaan menurun menjadi 9,8 juta pada hari kerja terakhir Mei, jatuh di bawah angka 10 juta lagi, sebuah tanda bahwa pasar tenaga kerja yang ketat mungkin melihat setidaknya beberapa pelonggaran, menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS - RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Sumber : bisnis.com

Wall Street merosot pada akhir perdagangan Jumat pagi WIB, karena spekulasi The Fed harus mengambil pendekatan yang agresif untuk menjinakkan inflasi membuat imbal hasil obligasi pemerintah AS lebih tinggi dan membebani pasar ekuitas. Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 366,38 poin atau 1,07 persen, menjadi 33.922,26 poin. Indeks S&P 500 kehilangan 35,23 poin atau 0,79 persen, berakhir pada 4.411,59 poin. Indeks Komposit Nasdaq tergelincir 112,61 poin atau 0,82 persen, ditutup pada 13.679,04 poin. Semua dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor energi dan konsumen memimpin penurunan masing-masing kehilangan 2,45 persen dan 1,65 persen. Sektor teknologi membukukan penurunan terlemah, menyusut 0,16 persen. Saham-saham AS turun pada Kamis (6/7/2023) setelah data pekerjaan yang lebih panas dari perkiraan menggarisbawahi kekuatan pasar tenaga kerja yang sedang berlangsung dan meningkatkan ketakutan investor akan kenaikan suku bunga di masa depan dari The Fed.

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul "Pasar Berspekulasi The Fed Makin Agresif, 11 Sektor Wall Street Merah", Klik selengkapnya di sini: https://market.bisnis.com/read/20230707/7/1672601/pasar-berspekulasi-the-fed-makin-agresif-11-sektor-wall-street-merah.
Author: Newswire
Editor : Pandu Gumilar

Download aplikasi Bisnis.com terbaru untuk akses lebih cepat dan nyaman di sini:
Android: http://bit.ly/AppsBisniscomPS
iOS: http://bit.ly/AppsBisniscomIOS
Wall Street merosot pada akhir perdagangan Jumat pagi WIB, karena spekulasi The Fed harus mengambil pendekatan yang agresif untuk menjinakkan inflasi membuat imbal hasil obligasi pemerintah AS lebih tinggi dan membebani pasar ekuitas. Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 366,38 poin atau 1,07 persen, menjadi 33.922,26 poin. Indeks S&P 500 kehilangan 35,23 poin atau 0,79 persen, berakhir pada 4.411,59 poin. Indeks Komposit Nasdaq tergelincir 112,61 poin atau 0,82 persen, ditutup pada 13.679,04 poin. Semua dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor energi dan konsumen memimpin penurunan masing-masing kehilangan 2,45 persen dan 1,65 persen. Sektor teknologi membukukan penurunan terlemah, menyusut 0,16 persen. Saham-saham AS turun pada Kamis (6/7/2023) setelah data pekerjaan yang lebih panas dari perkiraan menggarisbawahi kekuatan pasar tenaga kerja yang sedang berlangsung dan meningkatkan ketakutan investor akan kenaikan suku bunga di masa depan dari The Fed.

Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul "Pasar Berspekulasi The Fed Makin Agresif, 11 Sektor Wall Street Merah", Klik selengkapnya di sini: https://market.bisnis.com/read/20230707/7/1672601/pasar-berspekulasi-the-fed-makin-agresif-11-sektor-wall-street-merah.
Author: Newswire
Editor : Pandu Gumilar

Download aplikasi Bisnis.com terbaru untuk akses lebih cepat dan nyaman di sini:
Android: http://bit.ly/AppsBisniscomPS
iOS: http://bit.ly/AppsBisniscomIOS