Senin, 26 Oktober 2020

PT Rifan - Harga Emas Jeblok Di Bawah US$ 1.900

 

PT RIFAN BANDUNG - Memulai perdagangan awal pekan ini Senin, harga logam mulia emas sedikit tergelincir. Saat ini harga emas sedang konsolidasi jelang pemilihan umum di AS yang bakal digelar 3 November nanti. 

Pada 09.00 WIB, harga emas di arena pasar spot turun 0,14% ke US$ 1.898,11/troy ons. Harga logam kuning tersebut cenderung bergerak di rentang mendekati level psikologis US$ 1.900/troy ons.

Untuk kembali menguat harga emas membutuhkan katalis. Salah satu faktor yang bisa membuat emas kembali kinclong adalah stimulus. Namun agaknya pengesahan RUU stimulus bantuan Covid-19 lanjutan di AS tak akan dilakukan sebelum 3 November nanti. 

Partai Demokrat mengusulkan besaran paket stimulus kali ini sebesar US$ 2,2 triliun. Berbeda dengan Demokrat, Partai Republik merasa nominal tersebut terlalu besar dan akan membebani perekonomian AS ke depan karena membengkaknya defisit anggaran serta utang yang semakin menggunung.

Awalnya Presiden AS Donal Trump mengusulkan besarannya senilai US$ 1,6 triliun. Kemudian mantan taipan AS itu menaikkan tawarannya menjadi US$ 1,8 triliun. Trump pun semakin melunak, tetapi di saat yang sama juga mendapatkan kritikan dari partai pengusungnya yaitu Republik.

Bagaimanapun juga stimulus dari pemerintah dan bank sentral global telah membuat pasokan uang ke perekonomian menjadi berlimpah. Ekspektasi inflasi yang tinggi di masa depan meningkat sehingga banyak investor yang memburuk aset lindung nilai seperti emas. 

Selain negosiasi stimulus yang berkali-kali menemui jalan buntu, kini pasar juga mencermati dinamika politik yang terjadi di AS jelang pemilu. Dalam berbagai survei, rival petahana Donald Trump (Republik) yakni Joe Biden (Demokrat) diunggulkan. 

Poling secara nasional memang menjadi indikator popularitas seorang calon presiden AS. Namun poling tersebut tidak serta merta menjadi jaminan bahwa yang lebih populer akan keluar sebagai pemenang.

Pemilu tanggal 3 November nanti, masyarakat AS tidak langsung memilih pemimpinnya, melainkan orang yang diamanati untuk memilih presiden atau dikenal dengan elektor di setiap negara bagian.

Barulah di penghujung tahun nanti atau tepatnya awal Desember, para elektor berkumpul untuk melakukan voting siapa yang bakal memimpin Negeri Adikuasa untuk periode empat tahun ke depan. Sistem pemilu di AS ini dinamakan dengan electoral college.

Dinamika politik di AS serta risiko ketidakpastian yang tinggi memang berpotensi untuk membuat gejolak (volatilitas) di pasar juga akan ikut naik. Perdagangan pasar yang berlangsung singkat pekan ini cenderung membuat investor wait & see.

Pekan ini pasar diperkirakan bakal lebih volatil karena pemilu AS tinggal kurang dari satu minggu. Minggu lalu 17 analis berpartisipasi dalam survei harga emas yang dilakukan oleh Kitco.

Sebanyak 7 pemilih masing-masing, atau 41%, menyerukan harga emas naik atau diperdagangkan sideways minggu ini. Sementara tiga analis, atau 18%, menyerukan harga yang lebih rendah.

Setelah pemilu berakhir, siapapun presiden AS, harga emas diramal bisa melambung tinggi ke US$ 2.000/troy ons akhir tahun dan bahkan ke US$ 2.500/troy ons untuk tahun depan - PT RIFAN


Sumber : cnbcindonesia.com

Jumat, 23 Oktober 2020

Rifan Financindo Berjangka - Stimulus AS Belum Jelas, Harga Emas Kembali Amblas


RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Harga emas berjangka anjlok pada akhir perdagangan Kamis menyusul data pekerjaan Amerika Serikat yang lebih baik. Di samping itu, harga emas juga meredup karena penguatan dolar akibat keraguan atas paket stimulus.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember turun 1,29 persen ke posisi US$1.904,6 per troy ounce. Kinerja emas kemarin sekaligus menghentikan reli tiga haru beruntun yang dimulai sejak Senin.

Jumlah klaim pengangguran, yang jauh lebih baik dari yang diperkirakan, menekan emas, kata Edward Moya, analis pasar senior di OANDA.

Laporan yang dirilis oleh Departemen Tenaga Kerja AS pada Kamis menunjukkan klaim pengangguran awal AS turun 55.000 menjadi 787.000 dalam pekan yang berakhir 17 Oktober, lebih baik dari yang diharapkan.

Sementara itu, dolar bangkit kembali dari level terendah tujuh minggu, setelah Presiden Donald Trump menuduh Demokrat tidak mau mencapai kesepakatan tentang rancangan undang-undang bantuan baru virus corona.

Untuk diketahui, emas dipandang sebagai aset aman yang bisa melindungi aset dari inflasi dan penurunan nilai mata uang. Sejak awal tahun, harga emas sudah naik 25 persen.

Fokus sekarang bergeser ke debat presiden AS terakhir antara Trump dan saingan Demokrat Joe Biden pada Kamis malam waktu setempat menjelang pemilihan 3 November.

Harga emas cenderung diperdagangkan ke samping "sampai kita tahu siapa presiden berikutnya," tetapi bisa menembus di atas level 1.950 dolar AS pasca pemilihan, kata Robin Bhar, seorang analis independen.

Bank Wall Street Goldman Sachs, sementara itu, memperkirakan emas pada 2.300 dolar AS per ounce dalam jangka waktu 12 bulan dan mengatakan komoditas kemungkinan menuju pasar bullish tahun depan - RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Sumber : bisnis.com

Kamis, 22 Oktober 2020

Rifan Financindo - Emas Diramal Ngamuk Ke US$ 2.300 Akhir Tahun


RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Harga logam mulia emas terkoreksi setelah reli dalam tiga hari perdagangan terakhir. Dolar AS ambles karena kabar soal stimulus Covid-19 lanjutan di AS yang positif membuat harga emas terdongkrak.

Harga emas global di arena pasar spot terpangkas 0,17%. Pada 07.30 WIB, harga logam kuning itu dibanderol US$ 1.920/troy ons. Pada saat yang sama indeks dolar yang mencerminkan posisi dolar AS terhadap mata uang lain menguat 0,1%. 

Indeks dolar terus mengalami koreksi sejak 19 Oktober lalu. Kini posisi dolar AS berbalik arah dan harga emas yang sempat menguat menjadi tertekan. Emas dan dolar AS memiliki korelasi negatif yang kuat, artinya pergerakan harga emas berlawanan arah dengan indeks dolar. 

Kekuatan dolar AS tergerus karena para pemangku kebijakan semakin dekat dengan kata sepakat soal paket stimulus lanjutan Covid-19. Pelaku pasar optimis paket stimulus ekonomi yang bernilai jumbo ini bakal diumumkan sebelum pemilu AS dihelat pada 3 November nanti.

"Nancy Pelosi memiliki tenggat waktu hari Selasa. Nah, sekarang telah diturunkan hingga hari Jumat. Mengetahui hal itu, orang mengira kesepakatan akan dilakukan dalam waktu dekat, jadi mereka mulai mengakumulasi emas

Kepala Staf Gedung Putih Mark Meadows mengatakan masalah terbesar tetap pendanaan untuk pemerintah negara bagian dan lokal. Namun ia juga menambahkan bahwa ada kemajuan yang telah dibuat. 

Emas, yang dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, penurunan nilai mata uang, dan ketidakpastian, telah naik lebih dari 26% tahun ini, terutama didorong oleh banjir stimulus global yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk melindungi ekonomi dari kemerosotan yang disebabkan oleh pandemi virus corona.

"Apa yang akan membuat permintaan terdongkrak dan mendorong harga emas lebih tinggi? Itu adalah stimulus lanjutan, suku bunga negatif yang terus berlanjut, orang-orang khawatir tentang lonjakan infeksi Covid karena emas dianggap sebagai tempat yang aman," tambah Matousek dari Investor Global AS.

Chris Vermeluen selaku Chief Market Strategist di Technical Trader memiliki pandangan bullish terhadap emas akhir tahun ini. Dalam wawancaranya dengan Kitco News, Vermeluen memperkirakan harga emas bisa menyentuh US$ 2.100 atau bahkan US$ 2.300 di akhir tahun. 

Menjelang pemilu AS yang kurang dari dua minggu lagi, pasar berpotensi mengalami gejolak dan volatilitas yang lebih tinggi. Namun siapapun presidennya, harga emas berpotensi tetap menguat. Apalagi bila Joe Biden dari Partai Demokrat yang terpilih, harga emas bisa naik lebih tinggi lagi. 

Hal tersebut dikarenakan berbagai usulan kebijakan Partai Demokrat cenderung lebih berani dalam 'menghamburkan' uang sehingga ancaman devaluasi dolar AS dan inflasi yang tinggi semakin di depan mata. Investor pun pada akhirnya memilih berlindung dengan membeli emas yang akan semakin mengerek naik harganya - RIFAN FINANCINDO

Sumber : cnbcindonesia.com

Rabu, 21 Oktober 2020

PT Rifan Financindo Berjangka - Harga Emas Menguat Didorong Pelemahan Dolar AS


PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Harga emas naik tipis pada akhir perdagangan Selasa, mencatat kenaikan untuk hari kedua berturut-turut. Kenaikan harga emas terjadi ketika dolar AS melemah dan harapan untuk paket bantuan virus corona AS menjelang pemilihan presiden.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi COMEX New York Mercantile Exchange, bertambah 3,7 dolar AS atau 0,19 persen menjadi ditutup pada 1.915,40 dolar AS per ounce. Sehari sebelumnya, emas berjangka naik 5,3 dolar AS atau 0,28 persen menjadi 1.911,70 dolar AS.

Pasar emas berada dalam mode menunggu dan melihat sehubungan dengan rencana stimulus. Tampaknya Partai Republik dan Demokrat masih berselisih tentang topik-topik tertentu dalam bahasa tersebut

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat AS Nancy Pelosi dan Menteri Keuangan Steve Mnuchin "terus mempersempit perbedaan mereka" tentang paket stimulus, kata juru bicara Pelosi, Drew Hammill.

Emas, yang dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan penurunan nilai mata uang, telah melonjak 26 persen tahun ini di tengah tingkat stimulus global yang belum pernah terjadi sebelumnya selama pandemi.

Indeks dolar tergelincir 0,4 persen terhadap para pesaingnya ke level terendah sejak 21 September, membuat emas lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya. "Dalam beberapa hari terakhir, tidak ada banyak volatilitas pada emas ketika investor menunggu pendorong baru untuk pasar, kata kepala analis ActivTrades, Carlo Alberto De Casa, dalam sebuah catatan.

Investor sekarang menunggu debat terakhir antara Presiden AS Donald Trump dan penantang Demokrat Joe Biden pada Kamis.

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Desember naik 28,2 sen atau 1,14 persen menjadi ditutup pada 24,98 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari naik 13,8 dolar AS atau 1,6 persen menjadi menetap pada 877,3 dolar AS per ounce - PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Sumber : republika.co.id

Selasa, 20 Oktober 2020

PT Rifan Financindo - Emas Berjangka Lebih Tinggi Selama Sesi AS

PT RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Emas berjangka lebih tinggi selama sesi AS pada Senin.

Pada Divisi Comex New York Mercantile Exchange, Futures emas untuk penyerahan Desember pada USD1.908,05 per troy ons pada waktu, meningkat 0,09%.

Instrumen sebelumnya yang pernah mengikuti sesi tinggi USD per troy ons. Emas kemungkinan akan mendapat support pada USD1.885,00 dan resistance pada USD1.922,75.

Indeks Dolar AS Berjangka yang merusak kinerja greenback versus keranjang enam mata uang utama lainnya, jatuh 0,30% dan terdaftar pada USD93,395.

Sementara itu di Comex, Perak untuk penyerahan Desember naik 0,50% dan sererahan pada USD24,527 per troy ons sedangkan Tembaga untuk penyerahan Desember naik 0,43% dan sererahan pada USD3,0808 per pon - PT RIFAN FINANCINDO

Sumber : investing.com

Senin, 19 Oktober 2020

PT Rifan - Harga Emas Jelang Pilpres AS Tetap Naik


PT RIFAN BANDUNG - Harga emas stabil di area $1,900 per ons. Ketidakpastian saat ini merupakan kata-kata di pasar menjelang pemilihan presiden AS yang tinggal dua minggu lagi. Pemicu utama pergerakan harga emas tetaplah negosiasi stimulus fiskal AS dan reaksi dolar AS terhadapnya. Emas dan saham saat ini sangat mengikuti perkembangan paket stimulus AS.

Saat ini, emas kemungkinan akan tetap bergerak di rentang harga yang terbatas antara $1,880 dengan $1,930 per ons. Emas saat ini sedang mengikuti pergerakan harga saham dan dolar AS. Untuk naik lebih tinggi, harga emas harus menembus $1,925 sementara untuk bergerak turun harus menembus $1,880. Sentimen sampai saat ini masih “bullish” bagi harga emas.

Paket stimulus kemungkinan tidak akan berhasil dicapai sebelum tanggal pemilihan presiden AS berlangsung tanggal 3 November. Perkembangan terakhir mengatakan bahwa Trump secara personal meminta Senat Republikan untuk mendukung setiap kesepakatan yang dicapai. Namun, pemimpin mayoritas Senat, Mitch McConnel menolaknya dan menyatakan bahwa dia tidak akan bisa menjual paket stimulus dalam jumlah yang lebih besar kepada anggota-anggotanya.

Pergerakan harga emas berkaitan langsung dengan stimulus karena metal berharga ini digerakkan oleh inflasi. Semakin banyak uang yang dicetak pemerintah, semakin banyak dolar AS terdepresiasi. Pada saat matauang AS terdevaluasi, hal ini akan mendorong naik harga emas karena dolar AS adalah matauang cadangan dunia.

Sebelum ataupun sesudah pemilihan presiden, stimulus pada akhirnya akan diloloskan oleh siapapun pemenangnya karena diperlukan untuk menaikkan lebih banyak belanja. Jadi siapapun pemenangnya, harga emas akan naik pada akhirnya.

Jumlah yang akan dikeluarkan oleh Biden kemungkinan akan lebih banyak, sementara Trump akan membelanjakan uangnya dengan lebih terarah. Namun terpilihnya kedua presiden ini akan baik bagi kenaikan harga emas.

Elemen lain yang akan mendorong naik harga emas adalah kekuatiran investor mengenai kenaikan kasus Covid – 19 diseluruh dunia karena bisa diterapkan lockdown yang baru yang membebani sentimen pasar.

Investor global sedang memperhatikan perkembangan terakhir virus corona yang mengalami kenaikan di Eropa dan sebagian AS. Di era belum ada vaksin, pemulihan ekonomi sebuah negara sangat tergantung kepada bagaimana negara tersebut bisa mengendalikan virus corona. Bila tidak bisa dikendalikan ekonomi negara tersebut bisa melambat atau bahkan turun. Hal ini menguntungkan metal berharga emas.

Dengan tinggal dua minggu lagi pemilihan presiden AS akan berlangsung, ada alasan pasar untuk kuatir, karena ada kemungkinan hasil pemilihan diperdebatkan dan bahkan ada kemungkinan bisa terjadi kerusuhan. Hasil pemilihan belum pasti dan resiko politik bisa memukul harga saham. Apabila terjadi aksi jual saham secara dramatis sebelum atau sesudah pemilihan, emas akan ikut terpukul karena investor akan menaikkan likuiditasnya, meskipun hanya temporer.

Harga emas sekarang berada di $1,899.41 yang berarti sudah berada pada “support” terdekatnya. Penurunan lebih lanjut akan berhadapan dengan “support” berikutnya di $1,885.00 dan kemudian $1,851.00. Sedangkan kenaikan selanjutnya akan berhadapan dengan “resistance” terdekat di $1,925.00 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,930.60 dan kemudian $1,939.40 - PT RIFAN

Sumber : vibznews.com

Jumat, 16 Oktober 2020

Rifan Financindo Berjangka - Harga Emas Bikin Jantungan, Sudah Drop Di Bawah US$ 1.900/Oz


RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Harga emas kembali terombang-ambing. Penguatan dolar AS akibat ketidakjelasan soal stimulus ekonomi lanjutan di Negeri paman Sam menjadi pemicu terpangkasnya harga emas. 

Harga emas terkoreksi 0,18%. Pukul 09.10 WIB logam mulia emas dunia di pasar spot dibanderol US$ 1.897,4/troy ons (oz), melorot dari posisi penutupan perdagangan sehari sebelumnya di US$ 1.900,9/troy ons.

Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan bahwa pihak dari Partai Demokrat yang diwakili oleh ketua DPR AS Nancy Pelosi disebut masih belum sepaham soal besaran nominal paket stimulus yang ditawarkan oleh Presiden Trump. 

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa sepertinya stimulus ekonomi kali ini tidak akan mencapai kesepakatan sebelum pemilu AS yang dihelat pada 3 November nanti berakhir. Akibat kabar ini beredar indeks dolar menguat. 

Indeks dolar mencerminkan posisi dolar AS terhadap mata uang lain. Ketika indeks dolar naik, maka dolar AS mengalami penguatan. Di saat yang sama membuat harga emas yang dibanderol dalam mata uang tersebut menjadi tertekan. 

Emas yang dianggap sebagai aset lindung nilai dari inflasi mendapat berkah karena diminati oleh banyak investor lantaran pemerintah dan bank sentral terus menggenjot penyaluran stimulus. 

Paket stimulus yang masif membuat pasokan uang beredar menjadi banyak dan masyarakat terutama investor mulai khawatir inflasi yang tinggi di masa mendatang akan terjadi. Padahal suku bunga saat ini sedang ditekan. Alhasil suku bunga riil akan terkerek ke teritori negatif dan menjadi kondisi yang mendukung emas untuk naik lagi.

Harga emas belakangan memang susah sekali tembus US$ 1.900/troy ons. Kalaupun tembus setelah itu balik arah lagi melemah. Meski susah tembus level resisten kuat tersebut, ada analis yang mengatakan bahwa dengan harga emas di US$ 1.900/troy ons pun masih kemurahan.

Dalam komentar yang diposting Rabu, Jesse Felder, penerbit buletin investasi Felder Report, menegaskan kembali sikap bullishnya pada logam mulia. Dia mengatakan meskipun harga emas hampir dua kali lipat dalam lima tahun terakhir, harganya tetap murah dibandingkan aset lain yaitu saham.

Harga emas relatif terhadap Dow Jones Industrial Average sepertinya menunjukkan bahwa itu tidak mahal sama sekali. Padahal, untuk menyamai puncak valuasi yang dicapai sekitar satu dekade lalu, emas perlu dua kali lipat lagi dari harga saat ini.

Jika mengacu pada analisis Felder maka harga emas harusnya bisa mencapai US$ 3.800/troy ons. Meskipun begitu pasar masih terus mencermati perkembangan baru soal stimulus dan pemilu AS. 

Banyak analis yang memperkirakan di akhir tahun harga emas bisa kembali ke US$ 2.000/troy ons. Ketika risiko inflasi yang lebih tinggi semakin terlihat, maka harga emas masih berpotensi untuk menguat lagi - RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Sumber :  cnbcindonesia.com