
RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Harga emas dunia melorot tajam pada penutupan
perdagangan kemarin. Harga emas sebelumnya mendekati level psikologis
US$ 1.950/troy ons. Namun kini logam mulia tersebut ditransaksikan di
bawah US$ 1.920/troy ons.
Kemarin harga emas turun 1,57%. Hari ini Kamis (7/1/2021) harga logam
kuning tersebut lanjut melemah dengan penurunan 0,15% dari posisi
kemarin. Pada 09.15 WIB, harga emas di arena pasar spot dibanderol di
US$ 1.915,9/troy ons.
Penurunan tajam harga emas akibat aksi ambil untung para trader
setelah harga emas melesat tajam belakangan ini. Hasil pemilihan Senat
di Georgia mengindikasikan bahwa peluang Partai Demokrat menang tinggi.
Apabila Demokrat menguasai Senat maupun DPR AS, maka kebijakan
seperti kenaikan pajak hingga belanja negara yang lebih besar lewat
stimulus bakal lebih mudah untuk diloloskan. Adanya kemungkinan stimulus
baru berpotensi membuat harga emas mengalami kenaikan.
Laporan ketenagakerjaan nasional ADP untuk bulan Desember menunjukkan
penurunan pekerjaan yang sangat besar setelah diperkirakan mengalami
kenaikan moderat. Laporan ini adalah pendahulu dari Laporan Situasi
Ketenagakerjaan yang lebih penting yang dikeluarkan oleh Departemen
Tenaga Kerja pada hari Jumat pagi.
Tingkat pengangguran di AS diperkirakan berada di 6,8% dan penciptaan
lapangan kerja non-pertanian naik 50.000 pada Desember, dibandingkan
kenaikan 245.000 pada November. Dengan tingkat pengangguran yang masih
tinggi, ada kemungkinan perekonomian di AS masih membutuhkan stimulus.
Tren pelemahan dolar AS juga diperkirakan bakal berlanjut hingga
tahun ini. Hampir 50% responden yang disurvei Reuters berpandangan bahwa
pelemahan dolar AS bakal terjadi dalam jangka waktu lebih dari 1 tahun.
Dolar AS dan emas bergerak berlawanan. Artinya ketika dolar AS melemah harga emas cenderung menguat, begitupun sebaliknya.
Suku bunga rendah, injeksi likuiditas ke sistem keuangan melalui
quantitative easing (QE), stimulus fiskal jumbo, pelemahan dolar AS
hingga imbal hasil riil obligasi pemerintah AS yang sudah jatuh ke
teritori negatif hingga ekspektasi inflasi yang tinggi menopang
fundamental emas.
Kendati fundamental si logam mulia tersebut kuat, tetapi emas punya
pesaing baru. Namanya Bitcoin. Ketika emas terjungka dari level
tertingginya di bulan Agustus, harga Bitcoin justru reli dan mencetak
rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Ada outflow besar-besaran senilai US$ 7 miliar dari aset berbasis
emas berupa exchange traded fund (ETF). Di saat yang sama ada inflow ke
aset yang berbasis Bitcoin senilai US$ 3 miliar.
Investor institusi mulai terbiasa dengan gagasan bahwa Bitcoin telah
menjadi salah satu aset alternatif untuk lindung nilai dari inflasi yang
tinggi dan pelemahan dolar AS. Harga Bitcoin bahkan menyentuh US$
30.000.
Bank investasi global menyebut harga Bitcoin bisa tembus US$ 146.000
atau setara Rp 2,03 miliar (asumsi kurs Rp 13926.55/US$). Namun tak akan
terjadi dalam waktu yang singkat. Butuh waktu bertahun-tahun dan
berkompetisi dengan emas untuk menjadi salah satu alternatif nilai
tukar.
Harga Bitcoin yang sudah tembus level tertingginya di awal tahun
rawan mengalami koreksi. Sehingga target US$ 146.000 yang dipatok oleh
JP Morgan itu merupakan target jangka panjang.
Ketika harga Bitcoin jatuh dan koreksi juga terjadi di pasar saham,
maka tak menutup kemungkinan uangnya beralih ke aset berupa emas
sehingga akan mengerek naik harganya seperti beberapa waktu belakangan
ini - RIFAN FINANCINDO
Sumber : investing.com