Selasa, 26 Oktober 2021

PT Rifan Financindo - Inflasi Global Bergejolak, Harga Emas Potensi Naik hingga USD 1.830 per Ounce

 



PT RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Ancaman inflasi yang meningkat jadi faktor paling berpengaruh untuk pasar emas. Sejumlah analis meramal, harga emas berpotensi bisa melesat hingga kisaran USD 1.830 per ounce.

Harga emas didorong ke level tertinggi selama enam pekan. Itu karena meningkatnya tekanan inflasi yang telah mendorong tingkat impas (breakeven rate) dalam obligasi 5 tahun ke level tertinggi dalam satu dekade.

Inflasi merupakan masalah global yang terus berkembang saat ini. Data Kanada pada pekan lalu menunjukkan, harga konsumen naik ke level tertinggi dalam 13 tahun pada bulan lalu.

Sementara di Inggris, tekanan inflasi tetap tinggi dan di atas target Bank of England selama dua bulan berturut-turut.

Namun, emas kehilangan pengaruh kuatnya saat harga jualnya jatuh USD 30 dalam hitungan menit pasca Ketua The Federal Reserve Jerome Powell yang beritikad mengurangi ancaman inflasi.

Mengutip dari laman kitco.com, Senin, Powell menegaskan pandangannya bahwa bank sentral AS berada di jalur yang tepat untuk mengurangi pembelian obligasi bulanan sebelum akhir 2021. Dia menambahkan, pembelian obligasi bulanan diharapkan akan berakhir pada pertengahan 2022.

Namun, tidak semua analis yakin bahwa Powell dan The Fed akan mampu mengatasi ekspektasi inflasi yang meningkat.

Daniel Pavilonis, broker komoditas senior di RJO Futures, mengatakan bahwa kenaikan imbal hasil dapat menunjukkan ekspektasi inflasi menjadi tidak terkendali. Dengan aktivitas ekonomi yang mulai melambat, The Fed akan memiliki perangkat yang terbatas.

Saya tidak berpikir The Federal Reserve memiliki kemampuan untuk membawa inflasi kembali terkendali. Kami melihat risiko stagflasi terus tumbuh dan itu akan baik untuk emas dan semua komoditas. Emas akan baik-baik saja, seperti investor melihatnya sebagai aset waktu," tuturnya - PT RIFAN FINANCINDO

Sumber : liputan6.com

Senin, 25 Oktober 2021

PT Rifan - Tinjauan Mingguan Kalender Emas Depan


PT RIFAN BANDUNG - Pembeli emas melihat kenaikan minggu kedua berturut-turut tetapi tidak sebelum naik rollercoaster pada hari Jumat yang membawa mereka ke euforia level $1.800, kemudian terjun dan akhirnya ditutup positif.

Kontrak teraktif emas berjangka AS, Desember, bertahan di $1.796,30 per ounce di Comex New York, naik $14,40, atau 0,8%. Di awal sesi, emas Desember melonjak hingga $1.815.50, hanya untuk kedua kalinya dalam seminggu yang telah melewati level $1.800.

Untuk minggu lalu, patokan kontrak berjangka emas berakhir naik 1,6% dan memperpanjang kenaikan minggu sebelumnya sebesar 0,6%.

Pergerakan emas pada hari Jumat dipicu oleh Ketua Fed Powell, yang selama penampilan virtual di acara Bank of International Settlements, mengkonfirmasi rencana bank sentral untuk mulai mengurangi stimulus bulanannya sebesar $120 miliar antara November dan Desember, sambil tetap memberikan batas waktu untuk kenaikan suku bunga.

Pasar telah gelisah selama berbulan-bulan ketika stimulus akan dimulai. Dengan diketahuinya, spekulasi telah beralih ke suku bunga.

Emas bukan satu-satunya pasar yang terombang-ambing di sesi Jumat: S&P 500 naik dari rekor tertinggi menjadi negatif pada tengah hari setempat.

Itu juga salah satu hari yang aneh ketika trifecta emas, dollar dan imbal hasil obligasi jatuh, menunjukkan bahwa investor pada dasarnya tidak tahu apa yang harus dilakukan.

"Pengambilan kunci dari Powell adalah bahwa The Fed berada di jalur untuk mulai mengurangi aset dan itu harus dilakukan pada pertengahan 2022, inflasi sementara mungkin berlangsung sedikit lebih lama dari yang diharapkan, dan ekspektasi kenaikan suku bunga harus ditulis dengan pensil," kata Ed Moya, analis di platform perdagangan online OANDA.

Emas masih berakhir di posisi positif dan naik lebih dari 1,5% pada minggu lalu yang masih merupakan kesaksian dari kekuatan yang melekat setelah berminggu-minggu terperangkap di pertengahan ke level $1.700 yang lebih rendah, kata Moya.

Wall Street tahu bahwa imbal hasil riil negatif akan tetap baik hingga tahun depan dan emas akan menegaskan kembali dirinya sebagai lindung nilai inflasi," tambahnya - PT RIFAN

Sumber : investing.com





Jumat, 22 Oktober 2021

Rifan Financindo Berjangka - Setelah Cetak Rekor, Harga Bitcoin Mulai Goyang

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Harga mayoritas mata uang kripto (cryptocurrency) berkapitalisasi pasar terbesar bergerak melemah pada perdagangan Jumat pagi waktu Indonesia, setelah sehari sebelumnya sempat menguat.

Berdasarkan data dari CoinMarketCap pukul 09:00 WIB, dari kedelapan kripto berkapitalisasi pasar terbesar (big cap) non-stablecoin, hanya koin digital solana yang masih mampu menguat pada pagi hari ini.

Solana meroket 10,61% ke level harga US$ 201,82/koin atau setara dengan Rp 2.845.662/koin (asumsi kurs hari ini Rp 14.100/US$).

Sementara sisanya diperdagangkan di zona pelemahan pada pagi hari ini. Bitcoin ambles 3,25% ke level harga US$ 62.628,15/koin atau Rp 883.056.915/koin, ethereum melemah 1,7% ke level US$ 4.103,63/koin (Rp 57.861.183/koin).

Berikutnya binance coin ambruk 4,81% ke US$ 476,5/koin (Rp 6.718.650/koin), cardano merosot 3,12% ke US$ 2,16/koin (Rp 30.456/koin), ripple terkoreksi 3,36% ke US$ 1,1/koin (Rp 15.510/koin), polkadot terpangkas 1,71% ke US$ 43,49/koin (Rp 613.209/koin), dan dogecoin terdepresiasi ke US$ 0,2445/koin (Rp 3.447/koin).

Bitcoin terpantau ambles pada pagi hari ini, setelah koin digital berkapitalisasi pasar lebih dari US$ 1 triliun tersebut mencapai harga tertinggi barunya sepanjang masa di kisaran level US$67.000.

Rekor tertinggi baru bitcoin tercipta pada Rabu (20/10/2021), setelah ProShares, perusahaan yang berfokus pada Bitcoin Strategy Exchange-Traded Fund (ETF) mulai diperdagangkan di bursa saham New York pada pekan ini.

Peluncuran ETF bitcoin tersebut menghasilkan sebesar US$ 570 juta aset dan mendapatkan sebesar US$ 1 miliar volume perdagangan selama hari pertama, salah satu peluncuran ETF paling sukses sepanjang masa.

Beberapa pengamat mengatakan bahwa penurunan harga bitcoin yang mulai terjadi pada Kamis (21/10/2021) kemarin tampak lebih seperti koreksi jangka pendek, bukan seperti koreksi pada Mei hingga Juli lalu

Awal pekan ini, analis mengatakan bahwa mereka masih melihat indikator bullish dalam grafik bitcoin. Mereka masih memprediksi bitcoin bakal menyentuh level US$ 80.000, US$ 86.000, bahkan US$ 100.000.

"Pemegang jangka panjang tampaknya belum menjual, jadi ini kemungkinan hanya koreksi jangka pendek," kata Lucas Outumuro, kepala penelitian IntoTheBlock, dikutip dari CoinDesk.

Sementara menurut Laurent Kssis, direktur CEC Capital, setelah empat hari reli yang solid, saatnya bitcoin untuk rehat sejenak sebelum bitcoin kembali melanjutkan penguatannya yang cenderung lebih kuat.

"Pasar tetap bullish secara keseluruhan," kata Kssis, dilansir dari CoinDesk.

Di lain sisi, menurut Nikolaos Panigirtzoglou, Ahli strategi JPMorgan dalam laporan risetnya mengatakan bahwa telah terjadi pergeseran dari ETF emas menjadi ETF bitcoin sejak September lalu, dan kini bitcoin sudah memiliki driver bagi investor untuk mendapatkan eksposur bitcoin.

JPMorgan pun melihat adanya pergeseran arus masuk investor di bitcoin dalam beberapa hari terakhir dan membuat tren bitcoin masih akan bullish hingga akhir tahun - RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Sumber : cnbcindonesia.com

Kamis, 21 Oktober 2021

Rifan Financindo - Tapering, Harga Emas Dan Minyak Gerakkan Pasar Global

RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Di pasar saham, indeks saham utama AS di bursa saham Wall Street mengalami rally yang disebabkan oleh karena bagusnya laporan penghasilan perusahaan AS seperti Morgan Stanley, Bank of America dan Citigroup, yang jauh lebih baik daripada yang diperkirakan. Dow Jones, S&P 500 dan Nasdaq semua menghijau.

Mengikuti pergerakan di bursa saham AS, di bursa utama regional Asia, indeks saham utama juga ditutup di zona hijau, baik Hang Seng, Nikkei 225 maupun Kospi. Demikian juga dengan IHSG ditutup menguat sekalipun dengan kenaikan yang tipis.

Di pasar forex, pada hari Rabu indeks dollar AS mengalami kerugian terbesar dalam 1 hari sejak bulan Mei dengan penurunan sebanyak 0.54% karena turunnya yield obligasi AS 10 tahun hampir 3% selama dua hari berturut-turut.

Mengakhiri minggu ini dollar AS tetap tertekan dan diperdagangkan di sekitar 93.93 yang mendorong naik EUR/USD dan GBP/USD. Demikian juga dengan rupiah, ditutup menguat, tetap perkasa di 31 minggu terkuatnya.

Di pasar komoditi, harga emas turun tajam pada hari Jumat sebanyak $23 ke $1,774. Sementara harga minyak meneruskan kenaikannya ke $81.40 per barel.

Bagaimana dengan Market Mover pada Minggu ini?
1. Minggu ini, kekuatiran the Fed akan mulai melakukan “tapering” pada bulan ini berpotensi menggerakkan pasar
2. Pasar juga akan digerakkan oleh pergerakan yields obligasi treasury AS yang terus menentukan kenaikan atau penurunan dari USD.
3. Masih tingginya harga minyak mentah WTI berdampak kepada ketakutan pasar akan terjadinya stagflasi sehingga akan bisa menggerakkan pasar.

Munculnya data industri AS yang buruk mengurangi ekspektasi hawkish dari the Fed sehingga menarik turun yields treasury AS.

Dampak terhadap pergerakan harga terhadap bangkitnya kembali sentiment “risk-on” di pasar membuat harga saham kembali mengalami kenaikan.

Bangkitnya kembali sentiment “risk – on” ditambah dengan berkurangnya ekspektasi hawkish dari the Fed dan turunnya yields obligasi AS mendorong turun dollar AS, yang pada gilirannya mendorong naik pasangan mata uang EUR/USD dan GBP/USD.

Harga emas naik pada awal perdagangan sesi AS hari Senin. Pergerakan naik harga emas goyah lagi sehingga memerlukan informasi fundamental yang baru untuk bisa lompat dan memulai kembali rallynya.

Harga minyak mentah WTI menyentuh ketinggian 7 tahun yang baru dengan kekurangan akan gas alam di Eropa dan Asia terus yang mendorong naik permintaan minyak ditengah bottlenecks di sisi supply - RIFAN FINANCINDO

Sumber : viiznews.com

Selasa, 19 Oktober 2021

PT Rifan Financindo - Ramalan Harga Emas Terbaru Naik Tipis Tapi Bisa Turun

PT RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Harga emas dunia naik tipis pada perdagangan pagi ini. Ke depan, bagaimana prospek harga sang logam mulia, harga emas dunia di pasar spot tercatat US$ 1.766,16/troy ons. Naik tipis 0,09% dari posisi hari sebelumnya.

Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Sepertinya pepatah itu cocok diaplikasikan untuk harga emas.

Memang betul harga emas hanya bisa naik tipis-tipis. Namun dari situ harga emas bisa membukukan kenaikan 0,41% dalam sepekan terakhir.

Wang Tao, Analis Komoditas Reuters, memperkirakan momentum kenaikan harga emas masih bisa berlanjut. Dia menilai harga emas akan menguji titik resistance di US$ 1.776/troy ons yang jika tertembus akan membuat harga naik ke US$ 1.783/troy ons.

Apabila harga emas bisa stabil di atas US$ 1.764/troy ons, lanjut Wang, maka tren kenaikan bisa terjaga. Namun jika titik support itu tertembus, maka harga akan turun ke rentang US$ 1.752-1.757/troy ons.

Oleh karena itu, Wang memperkirakan momentum kenaikan harga emas tidak akan bertahan lama. Melihat grafik perdagangan harian, harga emas gagal menembus titik resistance US$ 1.800/troy ons dan malah menembus titik support US$ 1.773/troy ons.

Pergerakan harga yang drastis pada 15 Oktober 2021 memberi sinyal tren penurunan masih akan terjadi. Harga emas mungkin akan jatuh hingga ke US$ 1.739/troy ons dan kemudian mengalami konsolidasi dekat dengan US$ 1.773/troy ons," tulis Wang dalam risetnya - PT RIFAN FINANCINDO

Sumber : cnbcindonesia.com

Senin, 18 Oktober 2021

PT Rifan - Harga Emas Terhalang Resistance Di $1,800

 

PT RIFAN BANDUNG - Memulai minggu lalu, harga emas bertahan di $1,759 dan pada hari Kamis mengalami keuntungan yang mengesankan dengan harga emas naik ke $1,801 antara lain karena melemahnya dollar AS. Namun mengakhiri minggu lalu harga emas turun tajam pada hari Jumat sebanyak $32 ke $1,767.

Emas berhadapan dengan resistensi yang massif di level $1,800 per ons, yang membuat penurunan harga emas sebanyak $30 pada hari Jumat minggu lalu. Emas kelihatannya tidak siap terhadap suatu rally sampai cukup minat yang mau membawa emas melampaui barrier tehnikal kunci.

Salah satu hal yang membebani harga emas adalah outlook ekonomi yang lebih baik daripada yang diperkirakan setelah data ekonomi penjualan ritel AS muncul dengan kuat.

Pergerakan turun secara tehnikal membuat rally emas pada pertengahan minggu ke $1,801 – yang dipicu oleh munculnya data inflasi yang panas yang menunjukkan tekanan harga meningkat 5.4% secara tahunan di bulan September – terhenti.

Hal lain yang menekan turun harga emas adalah naiknya yields treasury AS, sebagai akibat ekspektasi akan lebih agresifnya Federal Reserve AS dan sentimen “risk-on” di pasar saham AS.

Salah satu rintangan terbesar bagi emas adalah harus bertempur melawan ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan menjadi lebih agresif dalam hal melakukan “tapering” terhadap pembelian obligasi dan menaikkan tingkat suku bunga.

Emas menghadapi resistensi yang massif. Model dari Federal Reserve’s Fund Rates memberikan indikasi akan kenaikan tingkat suku bunga pada tahun depan di sekitar bulan November. Ada banyak pembicaraan mengenai “tapering”, kenaikan yields AS, minat terhadap resiko di dalam saham kembali muncul. Emas menghadapi banyak resistensi di $1,800, $1,805, $1,815 dan seterusnya. Level support kritikal yang perlu dipertahankan adalah $1,750 yang apabila berhasil ditembus akan bisa turun lebih jauh ke $1,720 dan kemudian $1,685.

Bitcoin menyentuh $60,000 dan mendekati ketinggian sepanjang waktu untuk pertama kalinya di dalam 6 bulan untuk pertama kalinya yang juga menambah tekanan terhadap emas yang harus terus berkompetisi dengan cryptocurrencies yang popular sebagai asset lindung nilai.

Meskipun demikian level emas di bawah $1,800 bisa menjadi kesempatan untuk membeli emas di harga bawah. Ketakutan sedang meningkat, termasuk ketakutan akan inflasi dan isu rantai supply dan banyak orang sedang mencari yang aman. Emas, kripto dan treasuries biasanya adalah asset safe-haven yang dicari.

Di AS, setelah isu batas hutang diperpanjang, Demokrat memiliki waktu untuk bergerak lagi dengan dua undang-undang belanja.

Tidak adanya berita berarti negosiasi terus berlanjut. Setiap kesepakatan akan bisa mendorong naik sentimen, sementara itu setiap tidak ada kesepakatan akan membebani sentimen pasar.

Investor juga akan melihat apakah klaim pengangguran tetap di bawah 300.000. PMI pendahuluan untuk bulan Oktober dari Markit juga menarik perhatian. Di bulan September, manufaktur mencapai 60 poin yang merefleksikan pertumbuhan yang kuat sementara jasa di sekitar 55, menunjukkan ekspansi yang solid dan moderat.

Support terdekat menunggu di $1,750 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,720 dan kemudian $1,685. “Resistance” terdekat menunggu di $1,797 yang apabila berhasil dilewati akan lanjut ke $1,815 dan kemudian $1,836 - PT RIFAN

 

Sumber : vibiznews.com 

Kamis, 14 Oktober 2021

Rifan Financindo - Krisis Di China Makin Parah, Ternyata Ini Biang Keroknya

RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Krisis energi kini melanda China. Setidaknya 20 provinsi mengalami kekurangan pasokan listrik.

Para pekerja diminta menaiki tangga di pabrik bukan lift atau elevator, produsen dipaksa memotong waktu produksi secara drastis, sementara rumah tangga mengalami pemadaman listrik berhari-hari. Krisis ini membuat pihak berwenang China khawatir dan bisnis panik.

Hal ini diyakini bisa mempengaruhi pemulihan ekonomi China. Sektor-sektor intensif energi seperti produksi logam dan semen diperkirakan menjadi salah satu yang paling terpukul.

Pabrik-pabrik ini takut tak bisa memenuhi pesanan yang membludak menjelang akhir tahun. Kepala Kadin China bagian Selatan bahkan mengatakan anggotanya mulai mengandalkan generator diesel untuk beroperasi.

Lalu mengapa ini terjadi?

Setidaknya ada beberapa hal yang menyebabkan ini terjadi. Meskipun tenaga batu bara menyumbang sekitar 70% listrik China, ada kekurangan investasi yang terjadi dalam bahan bakar.

Seperti diketahui, Beijing perlahan-lahan menutup tambang batu bara dan pembangkit listrik tenaga uap batu bara (PLTU) karena alasan lingkungan. Tetapi gangguan lain muncul.

Jika dilihat, sebenarnya pasokan domestik di negara itu berasal dari Provinsi Shanxi, Shaanxi serta Mongolia Dalam. Namun sejumlah hal membuat pasokan di wilayah penghasil batu bara tak berjalan lancar.

Di Mongolia Dalam misalnya, kampanye anti korupsi di industri baru bara keras disuarakan sejak tahun lalu dan mengganggu pasokan. Sementara di Shaanxi, tambang-tambang ditutup seiring dengan peringatan 100 tahun Partai Komunis dan pertandingan nasional China yang membuat pemerintah daerah berupaya memunculkan citra "langit cerah".

Belum lagi banjir yang baru-baru ini menghantam wilayah itu. Hujan deras dan banjir menghantam tambang-tambang batu bara di Shanxi dan Shaanxi.

Mengutip Biro Manajemen Darurat provinsi, sebagaimana dimuat CNN International, hujan lebat memaksa penutupan 60 tambang batu bara di provinsi di mana seperempat dari produksi 'emas hitam' dihasilkan. Sekitar 1.900 bangunan hancur dan 1,75 juta warga terkena dampak.

Masalah tumpeng tindih kebijakan juga menjadi alasan lainnya. Tahun ini China meningkatkan hukuman bagi penambang yang gagal memenuhi pedoman keselamatan yang membuat para bos baru bara enggan memperluas produksi.

"Kurang koordinasi," kata seorang mitra di Plenum China Research, ditulis Financial Times.

Arahan lain juga terkait strategi pemerintah pusat menurunkan konsumsi dan intensitas energi tak ramah lingkungan. Dalam pidato di PBB Xi Jinping bahkan membuat janji iklim dramatis soal ini.

Provinsi pun akhirnya berlomba-lomba memenuhi target ini dengan membatasi pembiayaan untuk pembangkit listrik dengan konsumsi energi tinggi. Provinsi yang gagal memenuhi target direspon dengan penjatahan penggunaan listrik.

Hal ini pun ditambah dengan harga batu bara yang mulai tinggi, seiring kelangkaan energi gas di benua lain yakni Eropa. Harga gas yang melambung dan jumlah yang langka membuat batu bara terkerek naik.

Pasokan domestik menyumbang 90% dari konsumsi batu bara China tapi gangguan impor sangat berpengaruh. Perseteruan dengan Australia, sumber mayoritas batu bara China, karena asal usul Covid-19 juga jadi masalah lain.

"Sanksi (Australia) dan banjir di Indonesia serta wabah pandemi di Mongolia juga berkontribusi pada melemahnya impor batu bara China tahun ini," kata peneliti HIS Markit Lara Dong menjelaskan sumber-sumber impor batu bara Tirai Bambu.

Lalu bagaimana energi terbarukan?

Konsultan energi di Lantau Group mengatakan energi terbarukan belum bisa mencapai skala cukup untuk menggantikan batu bara. Kurangnya hujan juga mengganggu pembangkit listrik tenaga air - RIFAN FINANCINDO

Sumber : cnbcindonesia.com