Selasa, 28 April 2020

PT Rifan Financindo - Bursa Asia Menguat Ditengah Jatuhnya Harga Minyak



PT RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Bursa saham Asia bergerak menguat pada Selasa pagi dan ini juga berarti menlanjutkan tren kenaikan pada sesi sebelumnya. Pelemahan bursa global ini terjadi meski harga minyak anjlok yang membayangi sentimen optimisme seputar pelonggaran tindakan pembatasan covid-19. 

Indeks MSCI untuk saham Asia Pasifik di luar Jepang melonjak 1,88% di 464.81 menurut data Investing.com pukul 10.37 WIB. Saham di Cina (CSI300) naik 0,84% ke 3,855.04 dan indeks KOSPI naik 0,1% ke 1.924,69. Pun indeks Hang Seng menguat 0,84% di 24.485,00.

Sementara Jakarta Stock Exchange Composite turut naik tipis 0,05% atau 2,09 poin ke 4.515,23.
Selasa pagi, minyak berjangka anjlok setelah lembaga dana investasi terbesar diperdagangkan di bursa minyak AS (USO) mengatakan akan menjual semua kontrak minyak mentah bulan depan untuk menghindari kerugian lanjutan akibat jatuhnya harga.

Pukul 10,45 WIB, Minyak Mentah WTI Berjangkamasih anjlok 11,27% di $11,34 per barel dan Minyak Brent Berjangka jatuh 2,77% di $22,43 per barel.

Beberapa investor berharap hal yang terburuk mungkin dapat segera berakhir karena banyak negara telah mengizinkan para pelaku usahanya membuka ekonomi kembali. Tetapi ada juga menyarankan agar tetap berhati-hati utamanya karena vaksin covid-19 belum dikembangkan maksimal - PT RIFAN FINANCINDO

Sumber : investing.com

Jumat, 24 April 2020

Dilema Dolar AS: Lemah Gegara Kabar Bagus dari Negeri Sendiri


RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) melemah melawan mata uang Asia dan Eropa pada perdagangan Jumat. Sebabnya, ada kabar bagus terkait penyakit virus corona (COVID-19) dalam dalam negerinya sendiri.

Dolar AS melemah melawan semua mata uang utama Asia. Rupiah memimpin penguatan di Benua Kuning sebesar 1,28%, nasib yang sama diderita dolar AS di pasar Eropa, meski pelemahannya tidak sebesar berhadapan dengan mata uang Asia.

Berdasarkan data Refinitiv, pada pukul 19:15 WIB euro mampu menguat 0,23% melawan dolar AS di US$ 1,0860, begitu juga dengan poundsterling menguat sebesar 0,25% di US$ 1,2486. Di waktu yang sama, franc Swiss menguat 0,25% ke 0,9679/US$.

Kabar bagus datang dari Amerika Serikat dini hari tadi. Harapan akan segera berakhirnya pandemi COVID-19 kembali muncul setelah adanya kabar Gilead Science Inc, raksasa farmasi di AS, memiliki obat yang efektif melawan virus corona.

Rumah sakit di Chicago merawat pasien COVID-19 yang parah dengan obat antivirus remdesivir yang dalam uji coba klinis dan diawasi ketat. Hasilnya, pasien tersebut menunjukkan pemulihan yang cepat dari demam dan gangguan pernapasan.

Kabar tersebut membuat sentimen pelaku pasar membaik, bursa saham Asia dan Eropa menghijau, begitu juga dengan indeks berjangka Wall Street yang langsung melesat lebih dari 3%. Kenaikan indeks berjangka tersebut menjadi indikasi bursa saham AS juga akan melesat begitu perdagangan nanti dibuka.  

Selain kabar adanya obat yang efektif melawan virus corona, laju penyebaran COVID-19 di AS juga sudah mulai melambat. Data US Centers for Desease Control and Prevention (CDC) menyebutkan jumlah pasien corona di Negeri Paman Sam adalah 632.548. Bertambah 4,49% dibandingkan hari sebelumnya.

Kenaikan 4,49% lebih rendah dibandingkan pertumbuhan hari sebelumnya yang sebesar 4,56%. Sejak 8 April, persentase kenaikan kasus corona di AS bertahan di kisaran satu digit dengan kecenderungan menurun.

Oleh karena itu, Presiden AS Donald Trump mulai berpikir untuk melonggarkan aturan pembatasan sosial (social distancing) dan karantina wilayah (lockdown) yang diberlakukan di banyak negara bagian. Pelonggaran itu akan dilakukan secara bertahap.
 
Kami tidak membuka begitu saja, tetapi selangkah demi selangkah. Lockdown yang terlalu lama ditambah dengan depresi ekonomi yang menyertainya malah membuat masalah bagi kesehatan masyarakat. Akan lebih banyak kasus penyalahgunaan obat-obatan, kecanduan alkohol, kecenderungan bunuh diri, atau penyakit jantung," tegas Trump..

Kabar bagus tersebut membuat pelaku pasar ceria, dampaknya dolar AS yang dianggap aset aman (safe haven) menjadi kurang menarik dan mulai dilepas - RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Sumber : cnbcindonesia.com

Kamis, 23 April 2020

Rifan Financindo - Lagi Sentimen Covid-19, Bursa Asia Ditutup Variatif


RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Bursa saham Asia ditutup bervariasi pada perdagangan Kamis ini karena kekhawatiran atas potensi kejatuhan ekonomi ke jurang resesi akibat pandemi virus corona (Covid-19).
Di Asia, Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi pertumbuhan ekonomi diprediksi berada di level nol persen untuk pertama kalinya dalam kurun 60 tahun pada 2020.

Pertumbuhan ekonomi yang suram ini dikarenakan eksportir diterjang oleh permintaan yang merosot di tengah badai pandemi virus corona yang menyebabkan terjadi pembatasan aktivitas sehingga kondisi ini memaksa konsumen tinggal di rumah dan sejumlah usaha bisnis ditutup.

Data perdagangan mencatat, bursa saham di China daratan ditutup menguat, di mana indeks Shanghai Composite naik 0,31% menjadi 2.819,94, sedangkan indeks Shenzhen naik 0,47% pada 1.744,39. Sementara pasar saham di Hong Kong, indeks Hang Seng turun 0,51%.

Pasar saham Jepang juga masuk zona merah, indeks Nikkei 225 turun 1,33% menjadi 19.290,20, sementara indeks Topix melemah 0,82% menjadi 1.422,24 - RIFAN FINANCINDO

Sumber : cnbcindonesia.com

Rabu, 22 April 2020

PT Rifan Financindo Berjangka - Corona Dan Harga Komoditas Tekan Laju IHSG Hari Ini


PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan melemah pada perdagangan Rabu. Laju indeks saham utamanya dipengaruhi oleh kasus virus corona di dalam negeri dan harga komoditas yang anjlok, salah satunya minyak.

Tidak hanya itu, faktor ketidakpastian ekonomi global dan dalam negeri juga masih terus menekan pergerakan saham.

Analis Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya mengatakan indeks kembali tertekan oleh kondisi pasar regional dan global. Keadaan, tambahnya, diperparah oleh fluktuasi harga komoditas.

IHSG berpotensi melemah, mengingat kondisi pasar regional dan global, termasuk harga komoditas yang terlihat sedang dalam tekanan," kata William seperti dikutip dari risetnya, Rabu (22/4). Ia memprediksi IHSG bergerak dalam rentang support 4.302 dan resistance 4.718.

Analis Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi menuturkan rasio kematian korban virus corona Indonesia yang melebihi rasio kematian dunia juga masih akan menjadi fokus investor.
 
Sentimen pandemi covid-19 dalam negeri dengan rasio kematian 8,73 persen lebih besar dari rasio rata-rata kematian dunia sebesar 6,87 persen, ini masih akan menjadi fokus investor," ungkapnya.

Ia memproyeksi IHSG bergerak dalam rentang support 4.500 dan resistance 4.605.

Sementara itu, saham-saham utama Wall Street kompak ditutup melemah. Indeks Dow Jones jeblok 2,67 persen ke level 23.018, S&P 500 anjlok 3,07 persen ke level 2.736, dan Nasdaq Composite turun 2,7 persen menjadi 8.263 - PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Sumber : cnnindonesia.com

Senin, 20 April 2020

PT Rifan - IHSG Masih Di Bawah Tekanan Covid-19 Sepekan Ini


PT RIFAN BANDUNG - Dalam risetnya hari ini, Valbury Sekuritas Indonesia mengatakan pergerakan IHSG dalam pekan ini diperkirakan bergerak mixed dengan peluang melemah. Ketidakpastian dari Covid-19 tetap berpengaruh bagi pasar global dan juga dampaknya bagi saham yang diperdagangan Bursa Efek Indonesia pada pekan ini.

Dampak dari wabah Covid-19 diperkirakan berpengaruh besar terhadap ketenagakerjaan nasional, Menteri Keuangan Sri Mulyani, memprediksikan jumlah pengangguran dan angka kemiskinan di Indonesia akan mengalami kenaikan.

Angka kemiskinan Indonesia akan meningkat, dalam skenario berat naik 1,1 juta orang atau dalam skenario lebih berat akan menghadapi tambahan kemiskinan 3,78 juta orang. Demikian dengan angka pengangguran juga tentunya mengalami kenaikan. Angka pengangguran yang selama ini sudah menurun dalam lima tahun terakhir, juga kemungkinan akan mengalami kenaikan.

Dalam skenario buruk saja, angka pengangguran akan bertambah 2,9 juta. Dan ketika masuk dalam skenario sangat buruk diprediksi mencapai 5,2 juta jumlah pengangguran baru di Indonesia. 

Catatan dari Bank Indonesia, merebaknya pandemi Covid-19 telah mendorong ke luarnya investasi portfolio (capital outflows) dari Indonesia dalam jumlah besar dan memberi tekanan pelemahan nilai tukar rupiah. Aliran investasi portofolio total yang masuk sebesar Rp22,9 triliun dalam periode 1-19 Januari 2020 kemudian ke luar dalam jumlah yang besar sejak merebaknya pandemi Covid-19, yaitu Rp171,6 triliun secara neto dalam periode 20 Januari sd 1 April 2020.

Sebagian besar capital outflows dari SBN, yaitu sebesar Rp157,4 triliun, dan dari saham sebesar Rp13,3 triliun. Kebijakan pemerintah yang memutuskan melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta, dan sejumlah daerah lain, diakui atau tidak, telah berdampak kontraproduktif terhadap dinamika aktivitas ekonomi dan keuangan.

Sektor terdampak pertama akibat wabah Covid-19 ialah sektor pariwisata, seperti travel, hotel, restoran, penerbangan, dan UMKM terkait. Selain itu, perdagangan ekspor dan impor karena terputusnya mata rantai perdagangan internasional. Siiring dengan perkembangannya dalam tempo yang cepat berbagai aktivitas ekonomi dan keuangan dapat terdampak.

Di tengah Covid-19 yang menhantui AS, Presiden Donald Trump, mengancam akan membubarkan Kongres. Ancaman Trump ini disampaikan karena calon pejabat yang dinominasikan Trump selalu digagalkan politisi Demokrat di Senat. Trump menuding politisi Demokrat di Senat telah menjegal nominasi bagi sejumlah pejabat di pemerintahan yang penunjukkannya membutuhkan audisensi dan konfirmasi dari Senat - PT RIFAN

Sumber : beritasatu.com

Jumat, 17 April 2020

Rifan Financindo Berjangka - Ekonomi China -6,8% Tapi Rupiah Menguat 1,6%


RIFAN FINANCINDO BERJANGKA BANDUNG - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat di kurs tengah Bank Indonesia (BI). Rupiah juga menguat di perdagangan pasar spot.

Kurs tengah BI atau kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate/Jisdor berada di Rp 15.503. Rupiah menguat signifikan 1,8% dibandingkan posisi hari sebelumnya, kabar serupa juga datang dari 'arena' pasar spot. Pada pukul 10:00 WIB, US$ 1 dihargai Rp 15.345 di mana rupiah menguat tajam 1,63%. 

Kala pembukaan pasar rupiah sudah menguat 0,77%. Selepas itu, mata uang Tanah Air semakin sangar dan membuat dolar AS lengser ke bawah Rp 15.400

Sejauh ini pasar belum terpengaruh kabar buruk dari China. Biro Statistik Nasional Negeri Tirai Bambu melaporkan, ekonomi pada kuartal I-2020 terkontraksi alias tumbuh negatif -6,8% year-on-year (YoY). Ini adalah kontraksi pertama sejak China mencatat pertumbuhan ekonomi secara YoY pada 1992.  

Namun, yang lalu biarlah berlalu. Kuartal I-2020 sudah dilalui dan hasilnya, ya begitulah. Sekarang mari menatap masa depan.

China adalah negara yang pertama merasakan pukulan pandemi virus corona (Coronavirus Desease-2019/Covid-19) karena virus itu memang bermula dari Kota Wuhan di Provinsi Hubei. Namun, China pulih dengan sangat cepat.
 
Beberapa indikator menunjukkan bahwa pada Maret pun sudah ada perbaikan dibandingkan Januari-Februari. Ini adalah bukti ekonomi China sudah pulih dari keterpurukan, meski secara bertahap.

Jadi mulai kuartal II-2020 sepertinya kita akan melihat stabilitas, mungkin akan ada pertumbuhan di kisaran 2%," papar Nathan Chow, Ekonom Senior DBS yang berbasis di Hong Kong - RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

Sumber : cnbcindonesia.com

Kamis, 16 April 2020

Rifan Financindo - Mengenal Apa Itu Sovereign Bond


RIFAN FINANCINDO BANDUNG - Sovereign bond adalah obligasi negara yang merupakan instrumen utang khusus yang dikeluarkan oleh pemerintah. Obligasi negara dapat didenominasikan dalam mata uang asing atau mata uang domestik pemerintah, kemampuan untuk menerbitkan obligasi dalam mata uang domestik cenderung menjadi kemewahan yang tidak dinikmati sebagian besar pemerintah.

Namun, semakin tidak stabilnya denominasi mata uang, semakin tinggi risiko yang dihadapi pemegang obligasi, untuk memenuhi pengeluaran, pemerintah memiliki 2 opsi: untuk menaikkan pajak atau menerbitkan obligasi. Menaikkan pajak merupakan yang memiliki proses hukum yang panjang. Jadi, obligasi negara lebih disukai karena mirip dengan mengambil pinjaman dari pasar.
Imbal hasil obligasi pemerintah adalah tingkat bunga yang dibayarkan pemerintah pada penerbitan obligasi.

Negara-negara dengan ekonomi yang bergejolak dan tingkat inflasi yang tinggi harus menerbitkan pengembalian bunga yang lebih tinggi pada obligasi mereka dibandingkan dengan yang lebih stabil.
Adapun hasil obligasi tergantung pada 3 faktor:

1. Kelayakan Kredit

Adalah kemampuan yang dirasakan negara-negara penerbit untuk membayar hutang mereka. Ini dapat diperoleh dari lembaga pemeringkat.

2. Risiko Negara

Faktor eksternal / internal seperti kerusuhan dan perang cenderung membahayakan kemampuan suatu negara untuk melunasi utangnya.

3. Nilai Tukar

Dalam kasus di mana obligasi diterbitkan dalam mata uang asing, fluktuasi nilai tukar dapat menyebabkan peningkatan tekanan pembayaran pada pemerintah yang menerbitkan.

Selain itu, bank-bank sentral juga mengendalikan persediaan uang dalam perekonomian dengan menggunakan obligasi ini. Ketika pemerintah berada dalam mode ekspansionis, bank sentral akan mengembalikan utang dengan imbalan uang tunai untuk meningkatkan modal untuk pengeluaran.

Dalam hal itu, bank berharap untuk memperlambat pertumbuhan dengan menjual lebih banyak sekuritas untuk mengambil likuiditas dari sistem - RIFAN FINANCINDO
 
Sumber : investing.com